Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

Sastrawan Aceh Dapat Penghargaan dari Negeri Pahang


Jakarta | Penulis buku tentang sejarah Aceh, Hj Pocut Haslinda Mudadalam Azwar (67) menerima bintang kehormatan dan gelar D.I.M.P. (Darjah Indera Mahkota Pahang) dari Sultan Pahang.

Penganugerahan gelar dan bintang kehormatan untuk Pocut Haslinda itu dilakukan di Istana Abu Bakar, Pekan, Negeri Pahang, Malaysia, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-81 Sultan Pahang yang jatuh pada Kamis 26 April 2012.

Turut mendampingi Pocut dalam penyerahan gelar itu Teuku Riefky Harsya, putra Pocut Haslinda, yang kini menjadi anggota DPR RI.

Penghargaan untuk seorang ibu dari Aceh ini diberikan sebagai bentuk apresiasi Sultan Pahang atas kajian Pocut Haslinda selama 7 tahun terakhir tentang Tun Sri Lanang yang diyakini akan dapat menjadi perekat hubungan Indonesia-Malaysia.

Kajian tersebut juga menghasilkan beberapa buku karya Pocut Haslinda yang berjudul "Tun Sri Lanang Dalam Sejarah Dua Bangsa Indonesia- Malaysia: Terungkap Setelah 380 tahun", "Silalatus Salatin Sejarah Melayu versi Populer" dan  "Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh Hubungannya dengan Raja-Raja Islam Melayu Nusantara".

"Saya meyakini sejarah akan selalu aktual untuk dijadikan referensi mencapai kesuksesan masa depan, terutama dalam membangun kembali kebuntuan intelektualitas dan semangat generasi penerus bangsa untuk menyelesaikan permasalahan pada masa kini," ujar Pocut Haslinda.

Dijelaskannya bahwa Tun Sri Lanang pada sekitar abad ke-16 merupakan sosok penting dalam sejarah melayu Nusantara. Selain aktif dalam pemerintahan, dia juga seorang ulama, budayawan, sastrawan serta bangsawan pewaris kerajaan Malaka.

Warisan kitab Tun Sri Lanang yang sangat terkenal adalah "Salalatus Salatin" berisi hikayat-hikayat yang menceritakan cara memimpin dengan bijak, baik dari aspek sosial, ekonomi, politik serta keagamaan.

Menurut Pocut Haslinda, kitab tersebut disusun Tun Sri Lanang sejak tahun 1612 (Batu Sawar, Johor Lama) hingga selesai pada tahun 1617 di Samalanga, Aceh.

Seminar dan buku tentang Tun Sri Lanang yang diluncurkan pada beberapa tahun lalu sempat membuat gempar publik Malaysia khususnya kalangan sejarawan dan kerajaan. Hal ini disebabkan 4 dari 9 kesultanan di Malaysia adalah keturunan langsung Tun Sri Lanang, yakni Pahang, Johor, Trengganu dan Selangor.

Menurut Pocut Haslinda, selama ini publik Malaysia meyakini bahwa Tun Sri Lanang sebagai pewaris takhta Kerajaan Malaka dianggap telah terbunuh saat di bawa ke Aceh sebagai tahanan perang Sultan Iskandar Muda. Sementara yang terjadi justru sebaliknya, karena kematangan ilmu serta kemampuannya dalam pemerintahan, Tun Sri Lanang di jadikan penasehat Kesultanan Aceh Darusalam dan dinobatkan menjadi ulee balang (raja) pertama di Samalanga. "Kuburannya pun masih terawat baik oleh keturunannya di Aceh hingga saat ini," ujarnya.

Tabir misteri kehidupan Tun Sri Lanang semakin terungkap setelah buku karangan Pocut Haslinda yang juga waris ke-8 Tun Sri Lanang itu diterbitkan.


Sabtu, 21 April 2012

Berziarah ke Makam Syuhada Aceh di Malaka

Farid Wajdi Ibrahim
 Laporan Farid Wajdi Ibrahim Rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

PUKUL tujuh pagi, saya mengunjungi makam Syeich Syamsuddin al-Sumatrani (Ulama Sufi asal Aceh) di kampung Ketek, pinggiran Bandar Malaka, Malaysia. Lebih kurang dua jam perjalanan dari Selangor atau sekitar lebih kurang 140 km dari Kuala Lumpur arah Selatan.

Lokasi tersebut berada di tengah perkampungan Cina dengan kondisi lorong yang sempit dan tidak dapat dilalui mobil. Menurut keterangan dari penjaga makam, kuburan Syeich Syamsuddin Al-Sumatrani pada awalnya tidak ada yang mengurus, bahkan tidak satupun mengetahui itu merupakan makam ulama terkemuka di nusantara dalam sejarah Melayu asal Aceh. Sehingga pada saat diketahui sekitar 2 tahun yang lalu itu kuburan Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, Pemerintah Malaysia melalui Sultan Malaka langsung memerintahkan dipugar dan dibangun kembali dengan baik.

Kuburan ulama sufi itu tergolong sangat panjang (lebih kurang 8 meter), lokasi tersebut sekarang sudah menjadi tempat wisata kebudayaan yang banyak dikunjungi umat beragama di dunia. Uniknya, selain umat Islam yang berziarah, umat Budha, Hindu, Konghucu, Kristen dan lain sebagainya juga mengunjungi makam tersebut dengan hajatan sebagai tempat persemedian, bahkan dipenuhi dengan alat-alat persembahan. Namun, karena begitu maraknya dengan praktik syirik tersebut, pihak kerajaan sudah menertibkannya melalui penjagaan yang ketat terhadap orang-orang yang berkunjung ke makam itu.

Syeich Syamsuddin al-Sumatrani merupakan seorang ulama, sastrawan dan pahlawan yang terkenal di negeri Aceh di zaman Sulthan Iskandar Muda. Pada saat Malaka dikuasai Portugis tahun 1511. Aceh sering melawan portugis di Malaka. Tujuan peperangan tersebut untuk mempertahankan dan mengembalikan Malaka pada asal yaitu kerajaan Aceh yang bebas dari jajahan Barat dan bahkan untuk menegakkan syari’at Islam.

Salah satu serangan yang dilakukan angkatan tentara Aceh terhadap Portugis di Malaka langsung dipimpin oleh Syeich Syamsuddin al-Sumatrani, yang diikuti oleh panglima-panglima perang lainnya termasuk di antaranya adalah panglima Pidie. Syamsuddin al-Sumatrani dan panglima Pidie syahid di Malaka. Jasad panglima Pidie disemayamkan di puncak gedung-bukit China. Sementara, Syeich Syamsuddin al-Sumatrani dimakamkan di Kampung Ketek, Malaka.

Dalam perspektif sejarah Syeich Syamsuddin al-Sumatrani datang ke Malaka sekitar abad ke 17, tepatnya pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda berkuasa, di mana beliau juga dikenal sebagai Mufti Kerajaan Aceh pada saat itu. Namun pada substansinya, beliau datang ke sana atas perintah dari Sultan Aceh dengan tujuan untuk mempertahankan pasukan Aceh dalam peperangan melawan Portugis, yang mana Malaka merupakan wilayah kekuasaan Aceh waktu itu.

Setelah ziarah makam Syeich Symasuddin al-Sumatrani, saya mengunjungi Pulau besar. Di sana, terdapat makam Sultan al-Arifin. Ia adalah seorang Sultan yang sangat gagah berani juga sebagai ulama terkemuka di Malaka. Di samping makam Sultan al-Arifin juga terdapat makam Syeich Yusuf, guru dari Sultan al-Arifin. Makam Syeich Yusuf panjangnya mencapai 20 meter, dan merupakan makam terpanjang di Asia Tenggara.

Bukan hanya itu, masih ada dua lagi makam orang Aceh di Pulau Besar, Malaka yaitu makam Tok Janggut. Ia berasal dari Aceh yang diyakini datang dengan Panglima Lidah Hitam (ulama dan pahlawan yang sangat terkenal dalam dunia persilatan) dan satu lagi adalah makam Tok Putih yang juga asal Aceh dengan ukuran panjang kubur lebih kurang 14 meter.

Kita berharap Pemerintah Aceh mau bekerjasama dengan pemerintah Malaka untuk melestarikan para syuhada tersebut dan menjadikannya sebagai pusat kebudayaan.


Kamis, 19 April 2012

Jejak Aceh di Kota Salem, Amerika Serikat

Logo kota Salem, USA
Palembang | Seperti tersembunyi dibalik debu sejarah, tidak banyak yang tahu bahwa Aceh dan Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat mempunyai hubungan yang sangat erat di masa lampau. Terkhusus dalam hal perdagangan lada. Sanking eratnya, hingga logo Kota Salem pun menggunakan simbol-simbol Aceh. Benarlah Aceh punya sejarah gilang gemilang di masa lalu.
Berawal dari sebuah tag di facebook oleh teman saya, Safar Manaf, saya tertarik menelusuri lebih lanjut bagaimana hubungan antara Aceh dengan Salem. Atau lebih layak dikatakan hubungan Aceh dengan Amerika Serikat pada waktu itu, mengingat hal-hal yang terjadi di kemudian hari melibatkan Pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden Jackson.
Safar Manaf dalam blognya menulis secara singkat mengenai sejarah Kota Salem. Uraian sejarah tersebut bisa diakses dengan mengklik tab “City Seal” pada website kota Salem [dapat dilihat di referensi tulisan ini]. Berikut adalah terjemahan versi Safar Manaf terhadap teks tersebut:
“Pada tahun 1654, Elihu Yale mengirim dua karyawannya ke Atjeh, kerajaan merdeka termegah di Sumatera, untuk menjalankan perdagangan lada. Muatan lada terakhir memasuki Salem, Massachusetts dari Sumatera pada 6 November 1846, diangkut oleh kapal Lucilla. Salem telah memegang peranan utama dalam perdagangan lada sejak Pemimpin Salem memulai bisnis ini. Begitu pentingnya posisi Salem saat itu, seratus tahun kemudian, orang-orang di Australia masih menyebut biji merica dengan panggilan "lada Salem".

Kenyataannya jika kita menelisik kembali lambang kota Salem, kita akan menemukan gambaran seorang Atjeh. Pada puncak perdagangan lada, Dewan Kota memerintahkan untuk menciptakan sebuah segel yang menggambarkan "Sebuah kapal yang sedang berlayar, mendekati pantai yang digambarkan dengan seseorang yang berdiri di antara pepohonan di mana kostumnya menunjukkan wilayah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur, motto 'Divitis Indiae usque ad ultimum sinum' ... yang berarti "Menuju pelabuhan terjauh di Timur yang kaya..."

George Peabody, anak dari pedagang lada yang disegani, dan dia sendiri juga memiliki kapal pengangkut lada, melukis desain seorang pria memakai serban merah rata, celana panjang merah dan ikat pinggang merah, jubah kuning sebatas lutut dan baju luar warna biru. Tidak ada masyarakat lain di Hindia Timur yang memiliki pakaian semirip ini yang lebih mendekati selain masyarakat Atjeh, dan mungkin itulah maksudnya.

Hanya dokumen resmi kota Salem yang dibenarkan memakai Lambang kota tersebut. Adalah termasuk pelanggaran hukum Negara dan Peraturan Lokal, jika memakai lambang ini pada hal-hal yang tidak berhubungan dengan urusan resmi Kota Salem. Pegawai Kota adalah penjaga Emblem Kota.

Perdagangan, bisnis, di manapun dan kapanpun ternyata menyimpan intrik-intrik yang bisa menghancurkan hubungan yang terbina baik sejak lama. Keinginan untuk mengeruk keuntungan pribadi dan politik dagang telah membuat hubungan Aceh dan Amerika Serikat retak.
Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan rata dengan tanah. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.000 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu di Pelabuhan Kuala Batu, Susoh.

Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh.

Pada 7 Februari 1831 kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh, berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan. Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada.
Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.

Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dinakhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.
Kejadian ini membuat kerugian besar di pihak Amerika Serikat dan beberap kru kapal tewas di tangan perompak. Hal ini menyebabkan kemarahan besar di pihak Amerika. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.

Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick, komandan kapal perang terbaik Amerika saat itu, Potomac, membumihanguskan pelabuhan Kuala Batee, Susoh, Aceh Barat dibawah perintah langsung Presiden Jackson.

Bagaimanapun, hubungan Kerajaan Aceh dengan Amerika Serikat sudah terbina sejak lama. Dan bukti nyata hubungan tersebut terpatri dalam logo Kota Salem, Massachusetts. Akankah sejarah kejayaan “lada” Aceh kembali terulang?
Referensi
1.    http://culacalo-tuleih.blogspot.com/2012/04/aceh-emblem-kota-salem.html
2.    http://en.wikipedia.org/wiki/Salem,_Massachusetts
3.    http://www.salem.com/pages/index
4.    http://www.salemweb.com/community/city.shtml
5.    http://www.terbaca.com/2011/09/kisah-serang-usa-ke-aceh.html

Penulis seorang dokter asal Aceh yang sedang menjalani PPDS Ilmu Penyakit Dalam FK Unsri, Palembang
 

Selasa, 17 April 2012

Warga Aceh di Canada Memperingati Maulid Nabi


Oleh karena keadaan kerja yang menuntut saya tinggal sementara di Everett, Washington State Amerika Serikat. Saya bekerja di di Boeing sebagai mekanik penyelesaian akhir dalam tangki pesawat Boeing 787 yang dibuat dari bahan komposit serat. Saya menetap tidak jauh dengan pabrik perakitan pesawat tersebut.

Kota Everett, Washington hanya 185 km dari community rakyat Aceh di Vancouver BC, Canada. Masyarakat Aceh di sini telah menetap di Kanada sejak 2004 dan merupakan masyarakat Aceh yang terbanyak di Amerika Utara.

Seperti biasanya, dimana saja masyarakat Aceh ini berada selalu membuat perayaan-perayaan yang biasanya dilakukan di Aceh. Untuk kali ini masyarakat Aceh di Vancouver mengadakan Maulid Nabi Besar Muhammad saw. Acara ini dilaksanakan pada 7 April 2012. Perayaan ini juga dihadiri masyarakat dari Calgary, provinsi Alberta, Canada. Yang dari Amerika Serikat juga hadir termasuk saya sendiri.



Acara ini sangat menarik sekali. Dimulai dengan meudiké dan shalawat Nabi yang dibawakan oleh generasi penerus rakyat Aceh di Vancouver. Anak-anak  Aceh yang berumur 8-16 tahun mementaskan “meudiké” dengan sangat bagus sekali. Mereka melakukannya dengan keyakinan sungguh-sungguh. Kelihatan sekali mereka sangat profesional dalam mementaskannya. Suatu pandangan yang sangat meutjukèh haté, seubab dilakukan oleh anak-anak kita yang ribuan kilometer dari tanah éndatu mereka tempat asalnya “meudiké” yang mereka pentaskan.

Seperti biasanya di Aceh, setiap maulid nabi dihidangi dengan bermacam-macam makanan khas Aceh. Di sini tidak kurangnya juga ada bu leukat bungkôh dengan ôn pisang, reundang, mulôh panggang, prekedel, urap dan hidangan lauk lainnya. 

Jika kita sedang berada didepan hidangan ini seolah-olah kita sedang berada di Meunasah di salah satu gampông di Aceh. Kenyataannya saya sedang berada di Meunasah Aceh di Vancouver BC, Canada. 

Meunasah ini berada dari hasil jerih payah masyarakat Aceh disini yang tujuan utamanya sama seperti meunasah yang ada di Aceh. Tempat bermusyawarah, tempat mengajar Agama kepada anak-anak juga untuk melaksanakan acara-acara penting seperti ini. Pada Hari Raya Idul Adha yang lalu saya juga menghadiri shalat Hari Raya di Meunasah ini.

Seperti biasa masyarakat Aceh lainnya, menjo ka meusapat ka pasti poh tjakra. Setelah selesai acara pada siang hari kami poh tjakra disini, selain saling bertanya khabar satu dengan yang lainnya sampai shalat Magrib.

Setelah shalat berjamaah magrib, kami disuguhi ceramah Maulid yang dibawakan oleh 2 teungku yang menimba ilmu di dayah-dayah di Aceh. Yang sangat baiknya, selain orang-orang  dewasa, anak-anak disini sangat disiplin mengikuti ceramah tersebut. Diantara dua ceramah agama ini juga disertai dengan soal jawab tentang Nabi Muhammad saw kepada anak-anak Aceh. Anak-anak ini dengan bersemangat bertanya dan juga mereka dengan lancar menjawab pertanyaan balik yang dibawakan oleh pembawa acara.

Melihat tingkah anak-anak yang sangat antusias ini tidak terasa jam telah menunjukkan jam 11 malam. Acara ditutup dengan doa bersama dan shalawat kepada Rasulullah. Kami pun (saya dan seorang kawan saya dari Amerika) pamit kembali ke Amerika.

Dengan berat hati saya menyalami mereka satu persatu dan mereka mengiringi salam pemergian saya dengan untaian senyuman keakraban. Mereka yang sangat dekat dengan hati saya dan juga sangat ke-Aceh-an yang pasti akan saya kunjungi kembali.

Samudra Pasai : “Cinta dan Pengkhianatan”


Dengan suara yang masih menahan amarah, Malikuddhahir II kembali berkata, “Katakan kepada Gajah Mada, Malikuddhahir II tidak mau menerima surat perintahnya. Tanah Jawa tidak akan pernah bisa menundukkan Samudera Pasai!”

Di remang subuh yang dingin, di Tahun 1350 yang menentukan, embun pagi di perbatasan Pasai telah pergi bersama jejak langkah kaki yang membawanya berlari.

Pasukan Pasai telah bergerak menuju perkemahan Majapahit. Tombak dan pedang diacungkan. Pasukan berkuda dan gajah melangkah pelan menyembunyikan derapnya pada keheningan pagi.

Saat mata masih menyipit dari bangun tidur, dan penjaga telah lelah menunggu malam agar cepat berlalu, pasukan Majapahit seperti pencuri yang disergap dari persembunyiannya begitu menyadari tiba-tiba saja Pasukan Pasai telah mengepung perkemahan mereka.

Mereka terkesiap. Perkemahan langsung gaduh.

Tetapi terlambat untuk bergerak. Karena seluruh senjata yang berada ditangan pasukan Pasai telah diacungkan ke depan. Tubuh-tubuh pasukan Majapahit yang tidak berbaju itu menggigil bukan karena dingin. Tetapi karena rasa cemas dan takut menyelimuti raga yang bila sedikit saja mereka salah bertindak, ujung tombok atau tebasan pedang mungkin akan melukai badan yang menghantarkannya pada usainya hembusan nafas.

Khaidar mengacungkan pedangnya ke leher Panglima tersebut. Sang Panglima pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak mau gegabah. Pasukannya sudah terkepung oleh pasukan Pasai. Tidak ada yang bisa ia katakan selain hanya diam dan menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.

Di antara remang pagi yang disambut matahari, cahaya besi dari pedang Khaidar memantulkan cahaya. Hasil polesan tangan terampil pengrajin pedang Pasai itu membuat Panglima Majapahit mendenguskan nafasnya penuh kegelisahan. Degup dadanya bergetar.

Khaidar memandang kegelisahan Panglima Majapahit dengan sorot mata yang siap menerkam. “Tolong kalian camkan. Tidak ada alasan apapun bagi Majapahit datang ke Pasai dengan ambisi yang sangat memalukan dan tidak terhormat. 

Aku, Khaidar, putra Pasai dari Malikuddhahir akan sangat kejam bagi siapa pun yang mau melecehkan Pasai. Kini, nasib kalian ada di ujung pedangku. Tetapi aku tidak ingin menjadi pecundang seperti kalian. Aku sangat menghormati jiwa kesatria kalian. Ketimbang kalian kembali ke Majapahit dengan tangan kosong karena kekalahan, lebih baik anda bertarung denganku satu lawan satu. 

Kalau anda kalah, aku antarkan kalian ke dermaga untuk kembali ke Majapahit dengan jaminan keselamatan, tetapi kalau aku kalah, kita kembali lagi bertempur di medan perang hingga tetes darah penghabisan.”

***

Mereka adalah tiga generasi, berjuang untuk negeri yang sama, dengan kisah berbeda. Malikussaleh, sang pendiri yang penuh charisma, yang pergi ketika semua rakyat sampai pada puncak cinta terhadap sang raja. Malikuddhahir, terperangkap dalam bara dendam musuh lama, yang nyaris memicu perang saudara yang penuh darah. Malikuddhahir II, terjebak dalam cinta tak sampai, yang membawa pergi jauh dirinya untuk mengobati luka hatinya, namun kemudian kembali menjadi sosok yang gagah perwira.

Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama yang ada di bumi Nusantara. Kerajaan yang makmur dan berdaulat, dengan raja yang adil dan bijaksana. Tapi semua itu berada di ujung tanduk. Samudera Pasai terancam hancur di tangan keserakahan Gajah Mada.


***

(Novel ini dapat dibeli di toko buku gramedia, kharisma dan gunung agung di seluruh indonesia)

Raja Tidore Mangkat, Cucu Raja Aceh Berduka


Banda Aceh | Ahli waris keluarga besar Raja Aceh Tuanku Raja Yusuf  menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya atas mangkatnya  Sultan Tidore H. Djafar Sjah Dano H. Yunus pada Jumat (13/4). Raja Tidore ini mangkat  di Jakarta dan dimakamkan di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara pada Sabtu (14/4).
“Kami atas nama ahli waris keluarga besar Raja Aceh turut berduka. Kami berharap yang mengganti beliau bisa melanjutkan kebijakan-kebijakan yang memihak rakyat,” ucap Tuanku Raja Yusuf kepada The Globe Journal melalui siaran pers, Senin (16/4).
Cucu Sultan Muhammad Daudsyah menyebutkan ada hubungan emosional antara Aceh dengan Tidore sejak zaman pejajahan Belanda.  Puluhan tahun lalu, kakeknya Sultan Muhammad Daudsyah ditangkap oelh kolonial Belanda dan diasingkan dari Aceh yang pertama ke Maluku. Dalam pengasingan itu, ayah raja Yusuf yang masih kecil juga diikutsertakan ke sana pada 1907.
“Saya belum pernah berjumpa dengan Sultan Tidore. Namun kami sebagai sesama raja di Nusantara memiliki ikatan emosional yang sama,” jelas Yusuf yang sedang memasuki masa pensiun di Departemen Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh.
Sultan Djafar Sjah wafat dalam usia 73 tahun di rumah sakit Husada Mangga Besar Jakarta Jumat (13/4) akibat liver yang dideritanya selama ini. Djafar merupakan sultan ke-36 di Tidore yang sangat memperhatikan kemajuan daerah dan kemimpinan masyarakat melalui peran kesultanan.
Pemerintah Tidore menginstruksikan kepada seluruh instansi di lingkup Pemkot serta masyarakat untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari sebagai tanda bergabung atas wafatnya Sultan Djafar Sjah.

Kamis, 12 April 2012

Tahukah Anda: "Aceh Tidak Pernah Berontak Pada NKRI"


Di dalam buku-buku pelajaran sejarah dan media massa nasional, beberapa tahun sebelum terciptanya perdamaian di Aceh, kita sering mendengar istilah ‘Pemberontakan Rakyat Aceh’ atau ‘Pemberontakan Aceh’ terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak zaman kekuasaan Bung Karno hingga presiden-presiden penerusnya, sejumlah ‘kontingen’ pasukan dari berbagai daerah—terutama dari Jawa—dikirim ke Aceh untuk ‘memadamkan’ pemberontakan ini. Kita seakan menerima begitu saja istilah ‘pemberontakan’ yang dilakukan Aceh terhadap NKRI.

Namun tahukah kita bahwa istilah tersebut sesungguhnya bias dan tidak tepat? Karena sesungguhnya—dan ini fakta sejarah—bahwa Aceh sebenarnya tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali kesepakatannya dengan NKRI. Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda.

NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Aceh Darussalam  berabad-abad sebelumnya telah merdeka, memiliki hukum kenegaraan (Qanun) nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah.

Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?

Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkanAceh, namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda bisa menduduki pusat-pusat negerinya.

Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyatAceh adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat, Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang bernafaskan Islam.

Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak Rakyat Aceh soal yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abadKerajaan Aceh Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat.

Istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasayang sudah kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedangkan “Indonesia” masih berupa jabang bayi yang untuk makan sendirisaja belumlah mampu melakukannya.

Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanyaRakyat Aceh. Karena Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat.

Kesediaan rakyat Aceh mendukung perjuangan bangsa Indonesia, bahkan dengan penuh keikhlasan menyumbangkan segenap sumber daya manusia dan hartanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia—lebih dari daerah mana pun di seluruh Nusantara, adalah semata-mata karena rakyat Acehmerasakan ikatan persaudaraan dalam satu akidah dan satu iman dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang menjadi urat nadi bangsa Aceh.

Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri. Bahkan secara sepihak hak rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri rakyat Aceh.

Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika rakyat Aceh sudah sedemikian makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.

Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dariAceh berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bahkan ketika arus pengungsian dari wilayah Sumatera Utara masuk ke wilayah Aceh,rakyat Aceh menyambutnya dengan tangan terbuka dan tulus. Jadi jelas, ketika Jakarta malah melebur Aceh menjadi Provinsi Sumatera Utara, rakyat Aceh amat tersinggung.

Tak mengherankan jika rakyat Aceh, dipelopori PUSA dengan Teungku Daud Beureueh, menarik kembali janji kesediaan bergabung dengan Republik Indonesia di tahun 1953 dan lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih dulu diproklamirkan S. M. Kartosuwiryo di Jawa Barat. Ini semata-mata demi kemaslahatan dakwah dan syiar Islam. Dengan logika ini,Aceh bukanlah berontak atau separatis, tapi lebih tepat dengan istilah: menarik kembali kesediaan bergabung dengan republik karena tidak ada manfaatnya.

Pandangan orang kebanyakan bahwa Teungku Muhammad Daud Beureuehdan pengikutnya tidak nasionalis adalah pandangan yang amat keliru dan a-historis. Karena sejarah mencatat dengan tinta emas betapa rakyat Aceh danDaud Beureueh menyambut kemerdekaan Indonesia dengan gegap-gempita dan sumpah setia, bahkan dengan seluruh sisa-sisa kekuatan yang ada berjibaku mempertahankan kemerdekaan negeri ini menghadapi rongrongan konspirasi Barat.

Cara Pandang ‘Majapahitisme’

Mengatakan Aceh pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI merupakan cara pandang yang berangkat dari paradigma ‘Majapahitisme’. Bukan hal yang perlu ditutup-tutupi bahwa cara pandang Orde Lama maupun Baru selama ini terlalu Majapahitisme', semua dianggap sama dengan kultur Hindu. Bahkan simbol-simbol negara pun diistilahkan dengan istilah-istilah sansekerta, yang kental pengaruh Hindu dan paganisme yang dalam Akidah Islam dianggap sebagai syirik, mempersekutukan Allah SWT dan termasuk dosa yang tidak terampunkan.

Bukankah suatu hal yang amat aneh, suatu negeri mayoritas Islam terbesar dunia tapi simbol negaranya sarat dengan istilah Hindu. Ini merupakan suatu bukti tidak selarasnya aspirasi penguasa dengan rakyatnya. Padahal Islam tidak mengenal, bahkan menentang mistisme atau hal-hal berbau syirik lainnya. Rakyat Aceh sangat paham dan cerdas untuk menilai bahwa hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.

Khususnya di Jawa, Sosio-kultural raja-raja dan masyarakat Jawa sampai saat ini sangat kental dengan nuansa Hinduisme, ini bisa dilihat dari berbagai macam Ritual dalam budaya masyarakat di Jawa hingga saat ini. Raja merupakan titisan dewa, suara raja adalah suara dewa. Sebab itu, di Jawa ada istilah “Sabda Pandhita Ratu” yang tidak boleh dilanggar. Ini sangat bertentangan dengan sosio-kultural para Sultan dan Sultanah di Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam Islam, penguasa adalah pemegang amanah yang wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hari akhir kelak kepada Allah SWT.

Kerajaan Aceh Darussalam saat diperintah oleh Sultan Iskandar Mudatelah memiliki semacam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) yang hak dan kewajibannya telah di atur dalam ‘Konstitusi Negara” Qanun Meukuta Alam. Ada pula Dewan Syuro yang berisikan sejumlah ulama berpengaruh yang bertugas menasehati penguasa dan memberi arahan-arahan diminta atau pun tidak. Aceh juga telah memiliki penguasa-penguasa lokal yang bertanggungjawab kepada pemerintahan pusat. Jadi, seorang penguasa di Kerajaan Aceh Darussalam tidak bisa berbuat seenaknya, karena sikap dan tindak-tanduknya dibatasi oleh Qanun Meukuta Alam yang didasari oleh nilai-nilai Qur'aniyah.

Jadi, jelaslah bahwa sosio-kultur antara Aceh dengan kerajaan-kerajaan Hindu amat bertolak-belakang. Aceh bersedia mendukung dan menyatukan diri dengan NKRI atas bujukan Soekarno, semata-mata karena meyakini tali ukhuwah Islamiyah. Namun ketika Aceh dikhianati dan bahkan di masa Orde Lama maupun Orde Baru diperah habis-habisan seluruh sumber daya alamnya, disedot ke Jawa, maka dengan sendirinya Aceh menarik kembali kesediaannya bergabung dengan NKRI. Aceh menarik kembali kesepakatannya, bukan memberontak. Ini semata-mata karena kesalahan yang dilakukan “Pemerintah Jakarta” terhadap Aceh.

Dan ketika Aceh Darussalam sudah mau bersatu kembali ke dalam NKRI,Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersedia meletakkan senjatanya dan memilih jalan berparlemen, Aceh sekarang dipimpin seorang putera daerahnya lewat sebuah pemilihan yang sangat demokratis, maka sudah seyogyanya NKRI memperlakukan Aceh dengan adil dan proporsional.

Puluhan tahun sudah Aceh menyumbangkan kekayaannya untuk kesejahteraan seluruh Nusantara, terutama Tanah Jawa, maka sekarang sudah saatnya “Jawa” membangun Aceh. Mudah-mudahan ‘kesepakatan’ ini bisa menjadi abadi, semata-mata dipeliharanya prinsip-prinsip keadilan dan saling harga-menghargai.

Sumber

Wasiat Terakhir Abdullah Syafi'ie


"...Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apa pun apabila negeri ini (Aceh) merdeka...".

Itulah wasiat terakhir Panglima Gerakan Aceh Merdeka Abdullah Syafei yang tewas dalam kontak senjata di kawasan perbukitan Jimjiem, Kecamatan Bandarbaru, Kabupaten Pidie. Wasiat yang dibuat sebulan sebelum ia meninggal, seolah firasat Syafei bahwa kematiannya memang telah dekat. Namun, jauh sebelum Tengku Lah --begitu ia biasa disapa-- tewas, ia telah menulis pesan agar kematiannya tidak ditangisi, apalagi diratapi. Sebab, perjuangan kemerdekaan negeri Aceh Sumatra belum tuntas dan kematian dirinya adalah syahid.

Tengku Lah adalah pemimpin sayap militer GAM yang sangat berpengaruh. Lebih dari 20 tahun ia memimpin gerilya GAM dari kawasan Bireun, yang dikenal sebagai markas GAM. Tengku Lah dikenal sebagai pribadi yang tegas dan sopan. Ia juga dikenal sangat santun dan bersahaja. Di mata aktivis GAM, Syafei adalah sosok yang humanis dan antikekerasan. Itulah sebabnya, berulang kali Syafie menegaskan bahwa perjuangan bersenjata tak lebih dari upaya mempertahankan diri dari serangan Tentara Nasional Indonesia.

Tengku Lah memang tak pernah dibesarkan dalam dunia kekerasan. Ia juga tak pernah mendapat pendidikan tempur di Libya, seperti yang diperoleh Muzakir Manaf, sosok yang diusung GAM menggantikan Syafei. Tengku Lah hanya seorang berkepribadian sederhana yang dilahirkan di Desa Matanggeulumpang Dua, 45 kilometer sebelah barat Lhokseumawe, Aceh Utara. Pendidikan terakhirnya hanya di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan. Itu pun hanya sampai kelas tiga. Setelah itu, ia belajar ilmu agama di sejumlah pesantren.

Uniknya, masa muda Syafei ternyata lebih banyak dihabiskan dalam dunia teater bersama grup Jeumpa. Ia kerap berperan sebagai wanita dalam setiap pementasan. Itulah sebabnya, sejak muda rambut Syafei selalu tergerai. Perkenalan Tengku Lah dengan dunia militer terjadi pada awal 1980-an. Ia bergabung bergabung dengan GAM kelompok Hasan Tiro. Meski begitu, keramahan dan kesantunan Syafei tak pudar. Ia terus menjalin komunikasi rakyat Aceh, yang memang sangat dekat dengan dirinya.

Sikap ramah, santun, dan hangat ini diperlihatkan ketika Syafei dengan begitu akrab bertemu dengan sejumlah komponen masyarakat dan wartawan. Sekretaris Kabinet di era Presiden Abdurrahman Wahid, Bondan Gunawan, dan artis Cut Keke adalah dua di antara tokoh yang pernah Syafei temui.

Bahkan, ketika TNI mengklaim telah menembaknya hingga sekarat, Maret 2000, Syafei dengan santai malah mengundang reporter SCTV Jufri Alkatiri dan Yahdi Jamhur untuk sebuah wawancara di tengah Hutan Pasee. Dalam kesempatan itu, Tengku Lah juga mengundang wartawan Kompas Maruli Tobing untuk melihat kondisi terakhir Syafei yang saat itu ternyata dalam kondisi sehat walafiat.

Setiap gerak Syafei memang layak "disantap" pers. Ia dianggap tokoh penting untuk menyelesaikan konflik Aceh yang telah berlarut-larut dan berdarah-darah. Namun, sebelum Serambi Mekah aman dan kemerdekaan Aceh masih menjadi mimpi bagi sebagian anggota GAM, Tengku Lah keburu tewas. Ia meninggal begitu dramatis; bersama Fatimah, istrinya yang tengah mengandung enam bulan, dalam keyakinan menjadi syahid.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)

Dihormati Kawan Disegani Lawan

Subuh hampir menjelang ketika serombongan orang berjalan kaki sambil mengusung empat keranda dalam pekat malam. Di posisi paling depan, seorang lelaki menjinjing petromaks sebagai penerang jalan. Seratus meter dari sana, sejumlah laki-laki masih menggali lubang kubur berukuran 3 x 2 meter.

"Tolong ambil timba, semua air harus dibuang,” ujar seorang lelaki meminta untuk menguras air yang memancar di dalam lubang yang baru saja digali.

“Tanah yang di ujung sana, digali sedikit lagi,” seorang lelaki lain menimpali.

Pada malam menjelang subuh itu, 25 Januari 2002, isak tangis dan salawat bergema di Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Salah satu keranda yang diusung adalah Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Teungku Abdullah Syafie.

Ada juga istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya Teungku Daud Hasyim dan Teungku Muhammad Ishak. Mereka tewas akibat kontak senjata antara GAM dan TNI tiga hari sebelumnya, di Desa Sarah Panyang Jiemjiem, sekitar empat kilometer dari Blang Sukon.

Tanpa dimandikan, keempat jenazah itu lalu dimakamkan dalam satu liang. Pemakaman berlangsung sederhana. Tak ada simbol-simbol GAM seperti bendera atau letusan senjata api sebagaimana lazimnya penguburan seorang panglima militer. Tak ada pula petinggi GAM lain di sana.

Masyarakat setempat mengenang Abdullah Syafie sebagai sosok ramah dan bersahaja. Itu sebabnya, tiga warga desa yang terletak 35 kilometer di selatan Kota Sigli itu sempat pingsan, tak kuasa menahan haru. “Saya belum pernah menemukan seorang pemimpin yang begitu dekat dan bisa bergaul dengan segala lapisan masyarakat,” ujar pria separuh baya yang namanya tidak mau disebutkan.

Pria yang akrab disapa Teungku Lah itu tak hanya disenangi kawan, tapi juga disegani lawan. Letkol Infanteri Supartodi yang ketika itu menjabat Komandan Distrik Militer (Dandim) 0102 Pidie mengakui kelebihan Teungku Lah. “Beliau orang baik. Tapi karena ideologinya bertentangan, ia harus berhadapan dengan kami,” ujar Supartodi.

Abdullah Puteh yang ketika itu menjabat Gubernur Aceh juga memuji sosok Tengku Lah. Menurut Puteh, ia adalah pemimpin yang sudi diajak berdialog dan berpikiran modern. Itu terbukti ketika Teungku Lah menerima Bondan Gunawan, Sekretaris Negara yang diutus Presiden Abdurrahman Wahid pada 16 Maret 2000. Pertemuan itu berlangsung pada sebuah jambo di sawah pinggir hutan dalam suasana akrab dan penuh canda, tanpa pengawalan ketat. Bahkan, sejumlah televisi dalam dan luar negeri menyiarkan pertemuan itu secara langsung.

Tgk. Abdullah Syafie bersam Bondan Gunawan
"Saya menganggap Tengku Lah sebagai saudara, bukan musuh," kata Bondan sesudah pertemuan itu. Bondan bahkan menaruh foto dirinya dengan sang Panglima AGAM di meja kerjanya. "Itu potret saudara saya," ujar Bondan kepada Nezar Patria dari TEMPO yang menemuinya seusai bertemu Teungku Lah.

Meski mengaku pertemuan itu hanya sebagai silaturahmi biasa, namun sesungguhnya Bondan menyampaikan pesan Gus Dur untuk meretas jalan damai bagi konflik Aceh. Tertembaknya Teungku Lah sempat membuat jalan menuju damai kian berliku. Pertemuan yang sudah dirancang berlangsung pada 3 Februari di Jenewa, Swiss, tak berjalan mulus. Pihak GAM keberatan bertemu. "Selama ini, kami sudah berupaya melakukan diplomasi, tapi selalu dibalas dengan peluru," kata Sofyan Daud, juru bicara GAM ketika itu.

***

Sembilan tahun telah lewat. Tak ada lagi perang yang membuncah. Tiga tahun setelah Teungku Lah tertembak, pihak GAM dan pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005. Perjanjian yang dikenal dengan MoU Helsinki itu sekaligus mengakhiri konflik bersenjata selama 30 tahun.

Setelah damai datang, kuburan Teungku Lah ramai dikunjungi orang. Mulai dari masyarakat biasa hingga mantan petinggi GAM. Bahkan, Wali Nanggroe Tengku Hasan Tiro pun sempat berkunjung ke sana saat kembali ke Aceh pada Oktober 2008.

Kuburan Tengku Lah dibangun dengan sederhana dan hanya dikelilingi teralis besi. Beberapa helai kain putih terikat di pohon jarak yang ditanam di makam. Kain-kain itu diikat oleh warga yang berkunjung dan peulheuh kaoy (melepas nazar) di sana.

Sementara itu, nun jauh di seberang Geurutee, sekitar delapan jam perjalanan dari makam Teungku Lah, seorang arakata memutar otak untuk memugar makam sang panglima. Arakata adalah sebutan dalam struktur GAM untuk jabatan sekretaris. Lelaki itu, Azhar Abdurrahman, sang arakata wilayah Meureuhom Daya yang kini menjabat bupati Aceh Jaya.

Berkunjung ke makam Tengku Lah sekitar dua bulan lalu, Azhar terenyuh melihat kondisi makam. Ia pun tergerak hatinya untuk memugar kembali makam sang panglima. “Beliau orang besar, mantan panglima prang, tapi kuburannya sederhana sekali,” ujar Azhar.

Azhar memang belum pernah bertemu langsung dengan Tengku Lah. Wajahnya hanya dilihat di koran dan sesekali muncul di televisi. Meski begitu, Tengku Lah mendapat tempat khusus di hati Azhar. Ketika Tengku Lah tertembak, Azhar mendapat kabar itu dari telepon satelit. Seseorang dari komando pusat mengabari bahwa sang panglima telah tiada. “Kami sangat berduka setelah mendapat kabar itu dan bertekad melanjutkan apa yang sudah beliau perjuangkan,” kata Azhar.

Itu sebabnya, Azhar pun segera merancang pemugaran makam. Ia berharap, masyarakat yang datang ke sana dapat leluasa untuk sekedar berdoa atau peulheuh kaoy di sana. Diperkirakan, pemugaran makam akan selesai dalam waktu satu setengah bulan atau sebelum masuk bulan puasa tahun ini.

Bagi Azhar, Abdullah Syafie adalah figur idolanya. Ia pun masih mengingat pesan Teungku Lah sebelum ajal menjemput. "Jika suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri ini (Aceh) merdeka...".

Sembilan tahun setelah ajal menjemput, meski tak disampaikan secara langsung, pesan itu masih menancap di benak Azhar. Aceh sudah damai…[Tim/AtjehPost]

***

Sumber

Minggu, 08 April 2012

"Si Mata Biru", Orang Aceh Keturunan Portugis

Nama Lamno begitu populer, dikarenakan sebagian penduduknya berciri khas orang Eropa, sehingga sebutan "si Mata Biru" atau "bulek Lamno" pun tidak terbantahkan ketika kita melihat sosok mereka. Laporan Lola Alfira dari Radio Fas FM, Meulaboh, Aceh Barat.
Sampai saat ini tidak ada cerita yang pasti soal asal muasal mengapa si Mata Biru ada di pedalaman desa di bawah kaki gunung Geureute Aceh Jaya.

Bermata biru
Tidak semua penduduk Lamno yang berada di kecamatan Jaya, kabupaten Aceh Jaya memiliki postur tinggi, berhidung mancung, berambut pirang, berkulit putih dan bermata biru kecoklatan. Ciri khas tersebut hanya dimiliki oleh penduduk asli Daya keturunan Portugis.
Wahidin, salah seorang warga desa Ujong Muloh yang mempunyai darah keturunan Portugis mengatakan komunitas si Mata Biru atau lebih dikenal dengan sebutan bulek Lamno, kini sudah berkurang jumlahnya.
"Merupakan keturunan kedelapan karena dari orangtua kami ada yang kelima dan enam. Di kabupaten Aceh Jaya dan khususnya kecamatan Jaya dan ada lagi kecamatan Baru, namanya kecamatan Indra Jaya di situ terdapat beberapa desa yang dihuni oleh penduduk keturunan Portugis yang pada abad ke-14 sampai ke-16 terdampar di daerah kerajaan Daya," cerita Wahidin.
"Masyarakat dan kerajaan Daya menahan tentara Portugis, lalu mereka menikah dengan orang-orang yang berada di sekitar kerajaan Daya. Desa-desa yang menjadi basis keturunan Portugis penduduknya yaitu desa Ujong Muloh, Kuala Daya, Gle Jong, Teumareum dan Lambeso, ini umumnya hampir semua perempuan dan laki-lakinya berciri khas kulit putih, rambut pirang dan hidung mancung."
Sementara prianya ditambah dengan berbulu di tangan dan bulu dada yang tebal.
"Di Lamno pengaruh Islam luar biasa. Tentara Portugis yang telah kawin dengan dengan masyarakat Lamno mengikuti agama Islam," kata Wahidin, warga desa Ujong Muloh.
Dialek
Lamno sebuah wilayah yang terletak di pesisir Barat Aceh, berjarak 86 kilometer dari kota Banda Aceh, ibukota Provinsi. Adat istiadat Komunitas si Mata Biru sama dengan penduduk Aceh lainnya, hanya dialek bahasa yang membuat penduduk keturunan Portugis ini menjadi berbeda.
"Menyangkut dengan bahasa masyarakat Lamno berbeda dengan bahasa yang ada di kota. Orang keturunan Portugis itu menggunakan dialek bahasa Daya. Umpamanya kalo kamo (kami), bahasa Lamnonya kame atau kamey, (hari ini) uronyo disebut uronyee." 
Ada dua versi cerita tentang asal-usul keberadaan orang Portugis di Lamno.
Versi pertama mengatakan Portugis datang ke Aceh untuk menjajah pada tahun 1519 dan menikah dengan penduduk setempat, sedangkan versi kedua mengatakan sebuah kapal perang Portugis yang berisikan ratusan prajurit terdampar di perairan Lamno.
Kemudian Raja Daya yang berkuasa pada saat itu menyelamatkan prajurit dan menerima mereka menjadi penduduk setempat, dengan syarat harus memeluk agama Islam.
Tsunami
Kini keberadaan si Mata Biru atau bulek Lamno keturunan Portugis sudah berkurang jumlahnya. Desa-desa yang menjadi basis keturunan Portugis tersebut tersapu oleh dahsyatnya gelombang Tsunami.
Karena imbas tsunami yang luar biasa, keturunan Portugis itu terpencar. Ada yang ke Banda Aceh, Lhokseumawe dan Meulaboh. Setelah tsunami mereka kawin dengan orang di sekitar tempat pengungsian.
"Dari hasil perkawinan tersebut sudah ada anak-anak keturunan Portugis berada di luar kecamatan Jaya."
Pemerintah Portugal sendiri telah menyalurkan bantuan pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan di kawasan tersebut yang masih tersisa.
Menurut catatan sejarah yang ada di pusat dokumen induk Aceh, Marco Polo dalam petualangan pelayaran keliling dunianya tahun 1292-1295 pernah singgah di kerajaan Daya dan menulis buku tentang kebesaran kerajaan Daya berbaur dengan prajurit Portugis di Lamno. 


Minggu, 25 Maret 2012

10 Kota Paling Bersih di Dunia

Seperti pepatah mengatakan kbersihan adalah sebagian daripada iman sehinga dengan lingkungan yang bersih akan selalu menjaga iman kita gar tetap bersih, memang jika kita berada di tempat yang bersih hati kita akan merasa nyaman namunya di kota kota di indonesia memiliki kota yang bersih cukup sulit namun beberapa kota di dunia berikut ini memiliki kebersihan yang cukup luarbiasa sehinga penduduk di sana merasa senag kamu mau tahu kota apa aja itu simak 10 Kota Paling Bersih di Dunia berikut ini.
10. Oslo, Norwegia
Kota Oslo merupakan ibukota negara Norwegia kota ini juga sebagai kota terbesar di negri itu semua kegiatan prekonomian dan lain lain di negara Norwegia berlangsung di situ namun dengan pesatnya laju pembangunan di Kota Oslo kota ini merupakan salah satu kota dengan kualitas udara paling bersih di dunia.
9. Kobe, Jepang
Kobe mrupakan kota terbesar ke 6 di Jepang, kota Kobe memiliki drainase yang paling baik dimana setiap saluaran air yang megandung limabah dan kotoran tidak di buang ke sungai sungai sehinga sungai menjadi bersih.
8. Kopenhagen, Denmark
Ini adalah kota terbersih di Eropa, dari  hasil dari survei yang dilakukan secara proaktif antara wisatawan dan pengunjung di berbagai negara Eropa. Kota ini juga di nobatkan sebagai kota paling hijau di dunia. Masyarakat kota Kopenhagen memilih bersepedah dan berjalan kaki sehinga mengurangi pencemaram polusi udara selain itu masyarakat di kota ini memanfatkan sampah yang ada untuk kebutuhan energi.
7. Adelaide, Australia
Kota ini merupakan salah satu kota di Australia yang memiliki penduduk terpadat  namun dengan jumlah penduduk yang padat tidak membuat kota ini kotor sebagian para wisatawan yang berkunjung kekota ini menilai kalau kota Adelaide merupakan kota yang bersih dan rapi dimana transportasi tersusun rapi.
6. Minneapolis, Amerika Serikat
Kota Minneapolis mendapatkan predikat sebagai kota terbersih di amerika serikat setelah kota ini memlakukan perbaikan besar besaran terhadap kota ini walaupun kota ini menerima limbah elektronik namun kota ini tetap ramah terhadap lingkungan.
5. Wellington, Selandia Baru
Kota ini merupakan kota terbersih dan terhijau di negara Selandia Baru selain itu kota ini juga memeiliki nilai kualitas hidup yang cukup baiak kota ini bisa bersih sebap kota ini melakukan beberapa proses daur ulang smpah  serta menyediakan banyak jumlah ruang terbuka.
4. Helsinki, Finlandia
Jika Kamu mengunjungi kota ini maka kamu akan merasakan kenyamanan sebap kota ini memiliki fasilitas puplik terbersih di dunai sebut saja seperti toilet terbersih semua serba bersih semua fasilitas itu  dapat kamu temukan dimana saja seperti di kereta, toko dan berbagai kantor lainya.
3. Ottawa, Kanada
Ottawa adalah salah satu tempat yang nyaman dan paling keren di dunia untuk kemurnian alamdi dunia selain itu kota ini juga di kelilingi oleh hutan, taman, dan lahan basah sehinga membuat udara di kota ini selalu segar.
2. Honolulu, Hawaii
Kota ini merupakan kota dengan udara paling bersi di amerika serikat kebersihan kota ini mendapatkan predikat A.
1. Calgary, Kanada
Kota memiliki sistem sanitasi terbaik di dunia sehinga membuat kota ini memiliki tingkat kebersiah terbaik pula selain memiliki sanitasi yang baik pemerintah kota Calgary juga memlakukan pengolahan limbah dengan baik dan selalu berupaya menguraing jumlah limbah yang ada.

Aceh Sebelum Masa Kesultanan

Benteng Indrapatra
Benteng Indrapatra
“Sangat diperlukan sebuah masterplan untuk mengelola peninggalan yang telah didaftarkan sebagai cagar budaya maupun banyak situs yang belum diperhatikan oleh BP3 Aceh dan Sumut.”
Oleh E Edwards McKinnon
Semua orang tahu, sejarah Aceh sebagai suatu kesultanan yang gagah berani muncul di Aceh Besar akhir abad 15 atau awal abad 16 dengan cukup gemilang. Akan tetapi bukti-bukti atau bekas kesultanan itu, yaitu ‘tangible evidence’ sangat terbatas.

Memang ada banyak tulisan dalam beberapa bahasa soal kekayaan dan keagungan Aceh selama beberapa ratus tahun. Banyak naskah juga menceritakan kejadian-kejadian selama masa itu. Hanya, peninggalan fisik tampaknya sangat terbatas.
Situs keraton Kesultanan Aceh telah dihancurkan dan dipunahkan Belanda setelah Aceh ditaklukkan akhir abad 19. Hanya tinggal satu atau dua monumen seperti Gunongan dan Pinto Khob maupun aliran sungai Krueng Daroy sebagai bukti lokasi kerajaan tersebut. (Ismail Sofyan dkk 1990).
Selain itu, yang membuktikan kejayaan Aceh selama kurang lebih lima ratus tahun hanyalah beberapa makam dan batu Aceh yang masih dapat dilihat di beberapa lokasi di Kota Banda Aceh maupun sekitar Aceh Besar dan wilayah lainnya.
Pada umumnya batu-batu nisan Aceh itu kurang dilestarikan. Banyak nisan kuno hilang, digilas, dan dirusak tsunami atau dicuri untuk menjadi batu gosok (akik). Dan walaupun tradisi batu Aceh cukup terkenal, ada tradisi nisan lainnya yang hanya terdapat di beberapa lokasi tertentu yang terpakai pada saat yang sama dengan masa awal persediaan batu Aceh sebagai nisan, yaitu yang disebutkan sebagai nisan ‘plang pleng’.
Selama ini, nisan plang pleng ini terdapat di Gampong Pande (Makam Tuan di Kandang dan Makam Putroe Idjoe) dan salah satu lokasi lainnya di Banda Aceh, di Desa Lamreh, terutama di Ujung Batee Kapal dan Lubhok, di beberapa makam di Pase dan di satu atau dua lokasi di wilayah Daya di pantai barat Aceh.
Sebagian besar lokasi ini, kecuali nisan di Ujung Batee Kapal, telah didaftarkan dan diinventarisasi oleh Guillot & Kalus (2009). Kami telah berusaha mengadakan inventarisasi nisan di bagian daratan di atas Ujung Batee Kapal, karena situs di Desa Lamreh ini dapat dikaitkan dengan nama Lamri, Lamuri, Lanwuli atau Lan-wu-li dalam sumber Arab, Armenia, Cina, Keling dan Melayu sejak abad 9 sampai abad 15 Masehi.

Penemuan di Desa Lamreh

Makam di belakang Kuta Lubhok, di pantai Lhok Lubhok telah dikenalkan Alm Suwedi Montana dkk. setelah kunjungannya pada tahun 1995. Kala itu, dilaporkan dalam majalah Archipel, terdapat nisan Sultan Suleiman bin Abdullah bin Bashir yang wafat pada tahun 608 H, atau 1206 M. Sayangnya makam kuno di belakang Kuta Lubhok telah banyak mengalami gangguan dan kerusakan.
Sampai sekarang makam kuno tersebut belum didaftarkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh dan Sumatera Utara. Nisan Sultan Suleiman itu telah menghilang karena tanggal wafatnya Sultan Suleiman hampir seratus lima puluh tahun lebih awal dari epitaf lainnya di makam itu.
Guillot & Kalus (2008) mencurigai dan menganggap bahwa nisan itu mungkin tak pernah ada atau mungkin saja salah baca. Epitaf-epitaf lainnya di makam Kuta Lubhok itu semuanya dari abad 13 sampai 14 M.
Walaupun Suwedi Montana dan Guillot & Kalus telah mengunjungi makam di Kuta Lubhok, tampaknya mereka tak tahu bahwa ada banyak sekali nisan tua yang merupakan batu Aceh maupun nisan plang pleng di atas daratan tinggi tanjung Ujung Batee Kapal di Desa Lamreh.
Saya mengunjungi Benteng Inong Bale di Ujung Batee Kapal (UBK) pada 1997 bersama Drs Nurdin AR, Alm Drs Lukman Nurhakim (waktu itu Kepala Bagian Islam di PuslitArkenas), dan Dr P-Y Manguin dari EFEO.
Saat itu, saya melihat ke bawah dari ujung benteng ke lokasi yang dinamakan Lhok Cut, terdapat jalur air dalam antara karang dari air yang dalam di Krueng Raya ke pantai. Kami turun ke pantai di Lhok Cut dan di sana langsung menemui banyak beling tembikar, bekas crucible (tempat pemasakan logam) dan batuan keramik Cina dari masa Yuan (1278-1360 M) maupun sebuah nisan jenis plang pleng yang waktu itu dibawa ke Museum Negeri Aceh.
Dr Manguin telah mengambil contoh arang dari sebuah crucible di dalam lapisan tanah dasar di Lhok Cut untuk carbon dating (uji karbon). Setelah itu kami sempat kembali beberapa kali ke UBK dengan hasil penemuan beling-beling kuno dan beberapa nisan tua yang dipotret waktu itu. Berdasarkan penemuan tersebut, saya telah susun beberapa tulisan singkat dalam Bahasa Inggris tentang pentingnya peninggalan purbakala di UBK di Desa Lamreh.
Pada 2010 dan awal 2011, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) bersama dengan Singapore Earth Observatory (SEO/NTU) melakukan penggalian teratur di pinggir pantai Lhok Cut dan Lhok Lubhok sebelah barat laut dari benteng Kuta Lubhok.
Di Lhok Cut, berhasil ditemukan banyak tembikar maupun keramik Cina dari masa Yuan. Di pantai Lubhok, tim SEO menemukan sisa-sisa lapisan karang dalam tebing pantai yang telah dihancurkan hingga menyerupai kerikil. Karang ini dianalisis di laboratorium dan diperoleh bukti bahwa telah ada tsunami kuno yang menghantam pantai ini pada 1450 M (keterangan dari K. Sieh 2011).
Awal 2011, ada yang membuka lahan dengan sebuah buldozer pada lahan di atas UBK, tepat di atas lokasi Lhok Cut. Pembukaan lahan ini langsung menunjukkan bahwa lokasi ini bekas pemukiman kuno dari abad 13 atau 14 M.
Deddy Satria, seorang arkeolog independen di Banda Aceh bersama kami menemukan banyak sekali beling kuno, pecahan kaca kuno dari India Selatan, jenis-jenis tembikar yang dibuat di beberapa lokasi di Asia Selatan (India maupun Sri Lanka) dan artefak lainnya dari kerusakan tanah galian di lokasi ini.
Berarti, lokasi ini pernah jadi pemukiman dan merupakan tempat yang cukup ramai sekitar 600-700 tahun lalu. Beling-beling yang dikumpulkan dari atas tanah yang telah dibuldozer itu merupakan pecahan keramik Cina masa Yuan, yaitu mangkuk-mangkuk biru putih dari dapur keramik Jiangxi, pecahan batuan Yuan berglasir hijau dari Fujian, pecahan batuan Cizhou dengan hiasan coklat, dan pecahan batuan Zhejiang dengan glasir hijau (celadon) bermutu tinggi.
Ada juga keramik berglasir biru dari Persia (Iran) maupun sedikit artefak besi maupun tembaga dan batu. Sayangnya lokasi ini maupun situs UBK belum didaftarkan atau dilindungi oleh UU N0.11, Tahun 2010, terutama karena PB3 belum mengerti pentingnya situs yang seluas 200 hektare ini.
Wilayah di atas UBK merupakan suatu pemukiman kuno Islam yang tua sekali dan mungkin saja lebih tua–apabila pembacaan epitaf Sultan Suleiman tersebut benar berasal dari situs Samudera Pase di wilayah Kecamatan Geudong dekat Lhokseumawe.
Telah dibuktikan dengan carbon dating bahwa situs ini telah diduduki sebuah kelompok saudagar Keling sejak pertengahan abad 13, yaitu akhir dinasti Song Selatan dan/atau awal dinasti Yuan di Tiongkok. Mungkin saja kelompok pedagang ini adalah anggota Kelompok Anjuvanam.
Kelompok Anjuvanam adalah sebuah kelompok pedagang atau merchantile guild yang terdiri dari anggota beragama Islam (maupun pedagang Yahudi dan Kristen) pada abad 12 sampai 14 M (Karashima & Subbarayalu 2002: 87).
Hubungan jaringan dagang kelompoknya itu berjarak dari Lautan Merah dan Mesir melalui Teluk Persia, India dan Sri Lanka maupun Selat Melaka ke Quanzhou di Cina Selatan.
Sumber-sumber Arab dari abad 9, sumber India dari abad 11, Armenia dari abad ke … dan Cina dari abad 13 semuanya menyebutkan nama Lamreh dalam bentuk bermacam-macam, yaitu Rami, Ramni, Ilamuridesam, Lamuri maupun Lan-wu-li. Berarti pantai Aceh Besar ini cukup terkenal pada masa tersebut.
Situs UBK di Desa Lamreh wajib dilindungi oleh UU No 11 tahun 2010 dan bila perlu dikelola sebagai taman purbakala dan objek wisata budaya khusus sejarah Islam untuk menjadi sebuah profit centre bagi masyarakat setempat. Bukan saja pemandangannya indah, tetapi suasana tanjung itu juga adem sekali.
Di Desa Ladong (Cot Me) pada tahun 1996, seorang petani tambak di Cot Me bernama Hasballah menemukan pecahan keramik kuno di dalam tambaknya. Pernah juga di lokasi sama ditemukan tiga guci kuno dengan isi tulang manusia. Tulang-tulang ini dikubur kembali di lokasi itu.
Setelah dianalisis, pecahan-pecahan keramik maupun tembikar dalam tambak itu merupakan tembikar lokal, keramik batuan Guangdong dari Cina dari masa Song Utara (960-1127 M), keramik lainnya dari dapur Fujian maupun Zhejiang dari Song Selatan (1127-1268 M) maupun Yuan (1278-1360 M).
Ada juga tembikar berglasir dari Persia dan sejenis tembikar halus yang disebutkan Fine Paste Ware (FPW) dari Champa (Vietnam Selatan) yang dianggap diimpor antara abad 9 sampai abad 11 atau awal abad 12. Sebagian penemuan ini adalah lebih tua dari penemuan di UBK.
Awal 2011, keramik sejenis juga ditemukan di sekitar bekas jalur sungai Ladong yang berdekatan dengan benteng Indrapura. Maka kami berpendapat, wilayah ini perlu diselidiki dengan teliti agar menemukan situs pemukiman kuno yang sezaman dengan penemuan Cot Me. Penemuan ini membuktikan, wilayah ini telah diduduki pada masa perkembangan kerajaan Lamri.
Penemuan pecahan keramik ini yang boleh dikatakan sebagai sampah domestik purba, membuktikan bahwa ada pemukiman bersejarah di wilayah Ladong, jauh sebelum kemunculan kesultanan Aceh awal abad 16 dan bangunan benteng Indrapatra pada pertengahan abad 16.
Boleh ditanyakan, kenapa wilayah ini penting pada masah kuno itu. Kemungkinan besar jawabannya adalah air bersih. Tidak jauh dari Cot Me ada sebuah pancuran besar yang sekarang telah dipipakan dan dijalurkan ke wilayah Krueng Raya. Dahulu air dari pancuran ini mengalir ke pantai melalui sungai Ladong yang sekarang hampir kering.
Sementara itu di belakang Desa Lamnga, Kecamatan Neuheun, Aceh Besar, ada bekas aliran sungai yang diubah menjadi tambak ikan. Dalam proses penggalian tambak tersebut, masyarakat mengangkat pecahan keramik dari masa Yuan yang mirip-mirip dengan penemuan di Lhok Cut, Lamreh, maupun beling yang sama dengan penemuan di Gampong Pande maupun Lambaro Neujid.
Pecahan keramik kuno ini terdiri dari batuan asing dari Cina, Muang Thai dan Vietnam. Itu membuktikan, pernah ada pemukiman kuno di wilayah ini. Situs pemukiman ini belum diselidiki secara ilmiah dan dengan ekskavasi (penggalian) teratur. Pun begitu, penemuan ini adalah penambahan cukup penting dalam catatan sejarah Aceh sebelum abad 15.[]

Penemuan di Gampong Pande

Situs Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh, beserta dua makam kuno, yaitu Tengku di Kandang [TK] dan Putroe Ijo, adalah situs pemukiman kuno yang juga mengalami kerusakan dari ‘subsidence’.
Banyak nisan di luar benteng lautnya telah dirusak air laut sejak tsunami Desember 2004. Berdasarkan bukti dari nisan di Makam Tengku di Kandang (maupun Putroe Ijo, walaupun tanpa tanggalnya), boleh dikatakan, situs Gampong Pande adalah pemukiman kuno sebelum muncul masa kesultanan Aceh.
Hal ini dapat diperkuat dengan penemuan pecahan keramik masa Song Selatan (abad 13) atau Yuan (abad 13/14) sekitar 100 meter di luar benteng lautnya pada 2007. Kehadiran nisan gaya plang pleng yang berprasasti tahun 849 H, 1446 M [TK 1/03] dan 865 H, atau1460 M [TK 1/04), juga memperkuat kesimpulan ini. Epigraf termuda dari nisan plang pleng di komplek Tengku di Kandang adalah 888 H atau 1483/1484 (Guilot & Kalus 2008: 326-336).
Perlu diingat juga, di halaman sebuah madrasah di Neusu pernah ditemukan prasasti Tamil yang didirikan akhir abad 13 (Subbarayalu 2009: 529). Walaupun batunya sangat aus, sebagian dari tulisan aksara Tamilnya dapat dibaca, yang menyatakan: ada suatu kelompok terkait kegiatan perdagangan dan kaitan dengan pengelolaan emas.
Prasasti ini mungkin saja didirikan oleh kelompok pedagang Tamil Ayyavole atau Ainnurruvar (ataupun Anjuvanam) sekitar tahun 1281 M, berdasarkan aksaranya mirip-mirip dengan aksara prasasti Tamil dari Quanzhou di Fujian yang didirikan pada tahun itu (Subbarayalu 2009: 529).
Hemat saya, walaupun belum ada ekskavasi teratur di Neusu, penemuan ini menunjukkan, di wilayah ini telah ada pemukiman kuno saat itu. Halaman madrasah tersebut perlu diselidiki kembali dengan harapan ada pecahan bata kuno atau sisa tembikar yang dapat dihubungi dengan kegiatan orang-orang Tamil tersebut.

Penemuan di Desa Lambaro Neujid

Pertama kali saya kunjungi Lambaro Neujid, Kecamatan Lambadeuk, Aceh Besar, bersama Alm H Mohd Said pada 1975. Lokasi ini menarik perhatian karena terdapat bekas masjid kuno yang menurut cerita masyarakat setempat telah ditelan laut beberapa tahun silam.
Pada 1980an dan sebelum tsunami 2004, saya sempat datang beberapa kali ke Lambaro Neujid sejak 1975 itu. Dalam tulisan tahun 1988, saya kaitkan Lhok Lambaro dengan kerajaan Lamri atau Lamuri. Ternyata pendapat itu salah. Sekarang sudah jelas bahwa Lamri atau Lamuri pernah terletak di pinggir Krueng Raya, di Desa Lamreh sekarang.
Tetapi, apabila Lamri tak terletak di Lambaro, situs itu ada bekas pemukiman kuno juga, dan boleh ditanyakan pemukiman mana? Kemungkinan besar jawabannya dapat diperoleh dari nama lain di tempat itu, yaitu Pancu.
Sebelum 2004, masih ada kuala yang terkenal sebagai Kuala Bin atau Kuala Kepiting. Ada juga semacam pematang pasir di pinggir laut yang sedang dikuras oleh ombak pasang surut di mana ada makam-makam yang dibuka air laut.
Di belakang pematang tersebut terdapat wilayah yang terendam air pasang dan beberapa kompleks makam yang dikelilingi pagar batu dengan nisan tua dari masa kesultanan, yaitu dari abad 16 ke atas. Di wilayah itu juga ada sawah bernama Blangpandemas, di sekitar Desa Lamguron sekarang. Kabarnya masyarakat seringkali menemukan mata uang kuno, mata cincin, dan sisa perhiasan dari emas di situ.
Yang menarik sekali bagi saya sebagai seorang arkeolog adalah pecahan keramik dan sampah tua yang muncul di pasir sepanjang pantai Lambaro Neujid itu. Tertua adalah keramik Cina dari masa Song Selatan, maupun dari masa Yuan, Ming dan Qing. Ada juga pecahan keramik dari Burma, Muang Thai dan Vietnam maupun transfer ware dari Europa (Inggris maupun Belanda), dan pecahan botol kaca dari abad 19.
Sumber-sumber Arab menyebutkan, Fansur dan Lamri sering muncul sebagai dua lokasi berdekatan di utara pulau Sumatera (Tibbets 1971: 140). Dalam karangan Wolters, sebuah pelabuhan yang dinamakan P-o lu dalam sumber Cina (disebutkan sebagai ‘paw-law’) terletak di Sumatra bagian utara. Nama P-o lu ini dikaitkan dengan nama Ramni (Wolters 1979: ).
Tentang lokasi Fansur, ada pula suatu hal lainnya yang menarik. Cordier yang menulis tentang lokasi Fansur dalam bukunya (1910?) mengutip pernyataan Valentijn, seorang sejarawan Belanda yang menerbitkan laporannya sekitar pertengahan abad 18, sebagai berikut:
“Fansur adalah tidak lain dari Pantsur yang terkenal, walaupun tidak terkenal lagi oleh nama itu, tetapi sebuah kerajaan yang kita kenal melalui hasil karya Hamzah Pantsuri, seorang penyair yang berasal dari tempat Pantsur tersebut. Pantsur terletak di ujung utara pulau Sumatera, dan sedikit sebelah barat dari Achin. Fansur tersebut pernah penuh dengan kesibukan perdagangan dan masyarakat yang ramai tetapi barangkali akan hilang sama sekali apabila Hamzah Pantsuri tidak memperkenalkan nama tempat tersebut.”
Kala itu, Cordier berkomentar sebagai berikut, “Tidak mungkin ada pemukiman apa pun di sebelah barat dari Aceh” akan tetapi tulisan tersebut sebenarnya berarti “sedikit lebih jauh di sebelah pantai barat Sumatera dari Aceh”.
Tampaknya Cordier masuk perangkap yang biasa menangkap dan menjebak semua peneliti lainnya, karena ia kurang memperhatikan teluk Lhok Pancu, yang biasanya muncul dalam peta dengan nama Lhok Lambaro.
Dalam teks Arab Aja’ib al-Hind yang disusun sekitar 1000 M terdapat sebuah cerita tentang anak kapal yang terkandas di Fansur. Orang itu berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Lamri atau Lamuri, dengan berjalan kaki melalui sebuah teluk di pinggir laut yang bernama Lulubilank. Mereka hanya berjalan pada siang hari karena takut binatang buas bernama zarafa.
Juga diceritakan, wilayah tersebut penuh kanibal, orang yang berekor dan makan daging manusia. Dalam cerita ini ada kaitan tiga lokasi, Fansur, Lulubilank dan Lamri.
Hemat saya, apabila kejadian ini terjadi sebelum tahun 1000 M, tak mungkin orang-orang itu dapat berjalan kaki sepanjang 500 km dari Barus yang dahulu namanya Varocu ke Lamreh dalam suatu wilayah yang tak aman dan penuh ancaman.
Tetapi, apabila lokasi Fansur itu adalah Pancu sekarang, jaraknya hanya sekitar 60 km dan dapat dilewati dalam waktu kurang dari seminggu, walaupun mereka harus menyeberang tiga muara Krueng Aceh yang lebar.
Perjalanan sepanjang 60 km dan selama beberapa hari seperti itu, boleh dikatakan masuk akal. Apalagi ada nama di pantai ini yang boleh dikatakan mungkin saja cocok dengan nama Lulubilank, yaitu Ulee Lheue. Memang ini suatu kemungkinan yang hampir tak mungkin dapat dibuktikan secara pasti tetapi perlu dipertimbangkan.
Pada 1988, semua orang sudah tahu bahwa Fansur itu adalah Barus. Merurut Tibbets, nama Fansur tak ada lagi di Sumatera (1979: 140). Barus sebagai lokasi Fansur sudah muncul dalam banyak tulisan sejarawan barat (Ptak, Guillot, Perret & Heddy Surachman).
Sekarang saya berani berpendapat berbeda. Sepanjang pantai pulau Sumatera memang hanya ada satu lokasi yang dapat dikaitkan dengan nama Fansur (bahasa Melayu), yaitu Pancu (bahasa Aceh).
Di buku Gazeteer Sumatra, diterbitkan oleh US Hydrographic Dept. tahun 1944, muncul di halaman 155 sebuah lokasi yang bernama ‘Panchu’, terletak di 5° 53’ Utara, 95° 19’ Timur, yaitu sebuah kampong, Pancu; sebuah muara, Kuala Pancu; maupun sebuah tanjung, Ujung Pancu.
Dalam buku yang sama nama Lho Lam Baro ditentukan sebagai 5° 40’ Utara, 95° 21’ Timur. Boleh dikatakan kedua lokasi ini ada di tempat hampir sama.
Dalam tulisan sejarah Dinasti Tang, yaitu Xin Tang shu, ada komentar bahwa sebuah tiang setinggi 8 ‘ch’ih’ yang didirikan di P’o lu pada ‘summer solstice’ akan memberikan bayangan sepanjang ‘2 ch’ih, 5 t’sun’, yang cocok sekali untuk lokasi Lambaro Neujid. Dalam tulisannya, Gerini (1909:664), seorang sejarawan Inggris memperkirakan lokasi ini adalah di 5° 50’ U. (+/-20’) (Edwards McKinnon 1988: 120).
Memang di Barus ada kampung Batak yang bernama Fatsur (artinya ‘pancur’), tetapi kampung ini tak terletak di pantai sekarang dan tak pernah di pinggir pantai. Patsur adalah di pedalaman. Pancu, di Lhok Lambaro Neujid adalah di pinggir laut.[]

Pengaruh Tindakan Alam dan Lingkungan

Penemuan sisa-sisa purba sepanjang pantai Aceh Besar diantara Ujung Masammuka, Ujung Pancu, melewati Uleelhuee dan Ladong, sampai ke Krueng Raya, Ujung Batee Kapal dan Lhok Lubhok memberikan bukti nyata tentang sejarah wilayah ini sebelum munculnya Kesultanan Aceh pada akhir abad 15 atau awal abad 16.
Penemuan-penemuan situs purba yang sangat strategis ini adalah penting sekali dalam rangka sejarah Aceh maupun Nusantara. Bukti-bukti ini ada di lokasi sangat strategis di ujung pulau Sumatera. Beberapa sumber-sumber kuno menyatakan, ada dua kerajaan atau negara yang berdekatan di wilayah ini, yaitu Lamri dan Fansur.
Hal ini mendesak kita membahas kembali sejarah yang selama ini diterima begitu saja. Apabila Fansur pernah ada di Lhok Lambaro (Pancu), walaupun penelitian sampai sekarang belum menemukan peninggalan yang dapat dibuktikan berasal dari abad 9 atau 10, maka klaim dari Barus, walaupun terkenal dalam sumber Arab sebagai Fansur sejak akhir abad 15, tak dapat diterima lagi sebagai lokasi Fansur yang asli.
Kami berpendapat ada kekeliruan tentang lokasi Fansur dalam teks-teks Ibn Majid yang ditulis akhir abad 15 itu. Memang tak ada bantahan tentang Barus atau Vorosu sebagai sumber kapur Barus karena semua kapur bermutu tinggi mesti berasal dari wilayah Lau Cinendang dan sekitarnya di wilayah Dairi Pakpak di ulunya Barus.
Mungkin saja laporan-laporan Arab yang menyatakan bahwa kapur itu, yaitu tentang ‘kapur Fansuri’ dari pelabuhan Fansur adalah benar dan dapat diterima, tetapi berasal dari Fansur sebagai sebuah pelabuhan entrepot dan bukan bahan dari wilayah ulu Fansur (Pancu) sendiri.
Bahan berharga seperti kapur Barus dapat dibawa dari Barus ke Fansur yang terletak di lokasi yang lebih strategis di ujung pulau dan diperjualbelikan di sana.
Juga perlu diingat, laporan Ibn Majid itu ditulis tahun 1462 dan 1488 (Tibbets 1979: 192), yaitu sejak pantai Aceh Besar telah dihancurkan gempa bumi besar maupun oleh dua tsunami raksasa, yaitu pada 1390 dan 1450 (Meltzner et al. 2010).
Dengan demikian, waktu itu pelabuhan Fansur di Lhok Pancu (sekarang Lhok Lambaro Neujid) sudah menghilang atau masih dalam keadaan memprihatinkan. Gempa-gempa bumi kuno tersebut atau gempa berikutnya mengakibatkan wilayah pantai sepanjang kl 60 km dari Ujung Makammuka sampai dengan Ujung Batee Kapal mulai tenggalam (berarti mengalami ‘seismic subsidence’).
Diingat juga, pantai Aceh Besar terletak di antara dua cabang dari garis Sumatra Fault, suatu kerusakan geologis. Satu cabang sebelah barat yang mengarah ke Pulau Weh masuk ke laut di Lhok Lambaro Neujid dan satu lagi, sebelah timur masuk ke laut di dekat pelabuhan Malahayati, yaitu di Kreung Raya (Page & al 1979).
Berdasarakan kenyataan geologis ini, boleh dikatakan wilayah ini tak stabil dan mengalami penurunan seismic. Mungkin saja awalnya, proses ini cukup kecil tetapi sejak awal abad 20, proses tersebut bergerak lebih cepat, walaupun hanya beberapa sentimeter per tahun dengan akibat bekas permukiman Fansur kuno maupun pematang pasir pantai yang masih ada di Lhok Lambaro Neujid pada tahun 1980an telah ditelan arus dan ombak-ombak laut. Bekas bangunan maupun permukiman purba, makam dan sampah kuno masih dapat dilihat dibawa air maupun waktu air surut di sekitar Lhok Lambaro Neujid.
Tindakan alam dan lingkungan, yaitu gempa bumi maupun tsunami dan kegiatan seismic lainnya telah mempengaruhi perkembangan sejarah di wilayah Aceh. Kehilangan pelabuhan Fansur, sebuah entrepot kuno dan tempat asal kapur Fansuri, yaitu nama kapur Barus yang terkenal oleh pedagang Arab sejak abad 9, telah mempengaruhi perkembangan sosio-politik di wilayah Aceh dari pertengahan abad 15.
Kejadian-kejadian di Asia selatan, yaitu di India Selatan maupun Sri Lanka mungkin saja mempengaruhi perkembangan kerajaan Samudera Pase di pantai yang selamat sebelah barat di Selat Melaka pada masa itu juga.
Kesultanan Aceh berkembang dalam suatu keadaan di mana ketika kerajaan-kerajaan sebelumnya di wilayah ini telah dirusak atau dihancurkan (Fansur) dan hilang atau diperlemah (Lamri) oleh tindakan alam.
Pengaruh pedagang-pedagang Muslim terutama dari India, yang hadir di beberapa pelabuhan Sumatera pada akhir abad 12 sudah pasti mempengaruhi perkembangan sosio-politik dan ekonomi masa itu. Perkembangan produksi lada di wilayah itu mungkin juga mempengaruhi perkembangan masa kesultanan (Perret & Heddy Surachman 2011).
Lamri dan Fansur adalah dua buah kerajaan kontemporer yang berdekatan satu dengan lainnya. Apabila Pancu adalah Fansur, maka lokasi ini, hanya 12 km sebelah barat dari Kota Banda Aceh sekarang dan berada pada pantai yang sama, sangat berdekatan dengan Gampong Pande maupun lokasi pusat kesultanan Aceh abad 16/17.
Berarti, Kesultanan Aceh menjadi pewaris kegiatan perdagangan ramai yang pernah ada di Fansur maupun di Lamri pada masa sebelumnya. Dan sebenarnya bukan fenomena baru untuk wilayah strategis seperti ini.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka Pemerintah Aceh dimohon melestarikan peninggalan-peninggalan purba maupun budaya di Aceh demi mendukung perkembangan pendidikan dan ekonomi masyarakat maupun perkembangan parawisata budaya setempat.
Sangat diperlukan sebuah masterplan untuk mengelola peninggalan yang telah didaftarkan sebagai cagar budaya maupun banyak situs yang belum diperhatikan oleh BP3 Aceh dan Sumut.[]
E Edwards McKinnon, peneliti di Research Associate, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore. Ia memperoleh gelar PhD MA (Cornell) dan FRAS (London).