Rabu, 28 Desember 2011

Oleh-oleh Jepang untuk Aceh

Cara Aceh membangkitkan diri pascatsunami telah menjadi contoh baik bagi Jepang. Negeri Sakura itu pun memberi oleh-oleh untuk Aceh berupa Tsunami Mobile Museum, selain menanami bunga kertas.
Yamamoto dan kawan-kawan saat mempresentasikan Tsunami Mobile Museum kepada peserta workshop internasional di Banda Aceh, 22-26 Desember 2011. Foto : IST
Yamamoto dan kawan-kawan saat mempresentasikan Tsunami Mobile Museum kepada peserta workshop internasional di Banda Aceh, 22-26 Desember 2011. (Foto : IST)

Gempa tektonik dan gelombang tsunami menyapu sebagian Aceh pada 26 Desember 2004. Ratusan ribu jiwa melayang. Jepang, mengalami hal serupa dengan Aceh pada 11 Maret 2011. Belasan ribu jiwa melayang.
Seperti juga Aceh, masyarakat Jepang pun pernah menghadapi masa sulit. Terlebih dalam upaya rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana alam itu. Kerja keras harus tetap dilakukan, karena hidup harus terus berlanjut.
Sepenggal kalimat itu membuka percakapan saya dengan Prof dr Hayashi Yukio, Direktur Center for Integrated Area Studies (CIAS), Kyoto University, Jepang.
Hayashi tak sendiri. Turut bersamanya menemani saya berdiskusi: Prof dr Yanagisawa Masayuki (ahli bidang pertanian dan agraria), Prof dr Yamamoto Hiroyuki, Prof dr Hara Shoichiro (ahli bidang area informatics), dan Prof dr Nishi Yoshimi (ahli bidang penanggulangan sosial terhadap bencana alam dan konflik).
Hayashi mengatakan, pengalaman masyarakat Aceh yang telah berusaha dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana alam 26 Desember 2004 sangat membekas di benak masyarakat Jepang.
“Bencana adalah kejadian yang tragis, namun bencana membuka hubungan baru antara kedua masyarakat yang terlanda bencana alam terdahsyat, yaitu masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Aceh) dan masyarakat Jepang,” ujar Hayashi.
Para profesor dari Jepang itu pun berhasrat memperkuat hubungan kerjasama Aceh-Jepang lebih lanjut. Mereka tak ingin membiarkan hubungan yang telah terajut itu terbengkalai begitu saja.
Caranya, mereka berinisiatif mengumpulkan pengalaman Aceh membangkitkan diri pascatsunami 2004 dalam data dan informasi. Pendokumentasian itu diberi nama Aceh Digital Museum atau Tsunami Mobile Museum.
Dalam melaksanakannya, Hayashi dibantu Yamamoto dan Nishi. Mereka kemudian mengumpulkan semua arsip dan data tentang bencana Aceh. Semua pengalaman masing-masing negara (Aceh dan Jepang) dalam upaya mengatasi dampak bencana tersebut yang mereka temukan dikumpulkan dan disatukan. Pengalaman kedua negara itu nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat negara lain yang menghadapi bencana alam di masa mendatang.
Yamamoto dan Nishi mulai mencari bahan pada masa rehab-rekon. Menurut mereka, masyarakat yang hidup pascabencana di tengah pelaksanaan rehab-rekon sangat kooperatif (mau berkerjasama). Hal itu membantu Yamamoto dan Nishi dalam mengumpulkan dan meninjau berbagai informasi baru untuk membangun komunitas sosial baru.
Mereka paham, saat proses rehab-rekon sedang berjalan, ada banyak informasi yang tak sempat disusun dan disimpan secara teratur oleh masyarakat korban bencana. Bahkan ada informasi penting yang dibiarkan begitu saja. Nah, keduanya memanfaatkan informasi-informasi demikian untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan dalam pembuatan Tsunami Mobile Museum.
Usai meraup bahan, Yamamoto dan rekannya berencana melakukan symposium dan workshop untuk mengenalkan konsep yang sedang dikembangkan, yaitu Aceh Digital Museum. Dalam menyusun Aceh Digital Museum itu, mereka melakukan kajian area informatics, yaitu ilmu pengetahuan aplikasi informasi berdasarkan hasil pengetahuan.
“Area studies dapat digunakan sebagai alat yang menyusun dan menyimpan informasi dengan cara terbuka pada umum, agar informasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat, ujar Yamamoto.
Area studies merupakan suatu ilmu pengetahuan untuk mengaplikasi kearifan hasil kajian akademis sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat masing-masing wilayah.
Dengan area studies, hasil kajian politik, ekonomi, agraria, mitigasi bencana, dan lain lain akan dapat dimanfaatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lokal dengan cara lebih tepat.
Area studies itu merupakan suatu metodologi yang dapat memudahkan tukar-menukar informasi dari jenis yang berbeda dengan menggunakan komputer dan teknologi informasi seperti, sistem database, satelite, analisa multilinguistik, dan lain lainnya seperti gambar foto, manuskrip, dokumen-dokumen, buku, catatan tangan yang dapat ditempatkan di atas peta virtual yang ditetapkan di spasi layar komputer.
Peta virtual menjadi suatu platform yang menghubungkan berbagai informasi dan memberi suatu gambaran masyarakat lokal dengan kearifan lokal. Sistem pemetaan itu bisa manfaatkan berbagai informasi sesuai dengan tujuan masing-masing, misalnya bidang pariwisata bencana, edutainment, dan kajian sejarah.
Beberapa waktu lalu, Yamamoto, Nishi, dan teman-temannya kemudian menggelar symposium (workshop) internasional di Banda Aceh selama 22-26 Desember 2011. Workshop itu untuk mempertimbangkan bagaimana konsep Tsunami Mobile Museum dapat diimplementasikan di Banda Aceh, dalam rangka refleksi tujuh tahun tsunami Aceh.
Area informatics dalam bentuk Tsunami Mobile Museum, menurut Yamamoto, tak berfungsi kalau tak ada niat dan minat masyarakat. Perlu juga kerjasama antara berbagai lembaga dan pihak yang bertanggunjawab sesuai dengan tujuannya.
“Kalau sudah berhasil menciptakan kerjasama tersebut, kita yakin bahwa dengan area informatics ini Indonesia, khususnya Aceh, akan menjadi suatu daerah modal untuk mengembangkan perekonomian kreatif pascabencana alam, terlebih dengan negara-negara lain di dunia,” kata Yamamoto.
Mungkin saja Indonesia menjadi teladan penanggulangan bencana alam secara kreatif bagi negara-negara lain termasuk Jepang yang sedang menjalankan proses rehab-rekon.
Dalam workshop tersebut, mereka mengajak semua peserta mengumpulkan masing-masing pengetahuan, pengalaman, informasi, dan misi sendiri untuk memberi sumbangsih pengetahuan bagi siapa saja.
“Kami dari Kyoto University, Jepang, mengharapkan symposium/workshop ini akan menjadi suatu penolong untuk membuka halaman baru untuk hubungan antara masyarakat Indonesia (Aceh) dengan masyarakat Jepang dalam bidang area informatics,” kata Yamamoto.
“Ini sedikit oleh-oleh dari kami untuk masyarakat Aceh,” sambung Yamamoto sembari memperlihatkan alamat Tsunami Mobile Museum: http://disaster.net.cias.kyoto-u.ac.jp/Aceh_i/
Di situs itu, terdapat database lengkap mengenai gempa dan tsunami Sumatera 26 Desember 2004. Ia mulai beroperasi 5 Oktober 2009.[]

Penulis : Hendra Syahputra, adalah Content Manager di Divisi Knowldege Management–Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah.