tribunnews/dahlandahi
Jalan
ini terletak di samping Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Ketika tsunami
menerjang, ruko-ruko di sempanjang jalan ini nyaris tenggelam oleh air
tsunami. Mau tahu jaraknya dari bibir pantai? Sekitar enam kilometer.
|
BANDA ACEH
- Puluhan ahli ilmu geologi dari Amerika Serikat, Thailand, Chile,
India, dan Pakistan, beberapa hari ini mengunjungi sejumlah kawasan di
Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk melakukan penelitian tentang bencana
tsunami di Aceh.
Ketua divisi dan advokasi pusat riset tsunami dan mitigasi bencana
TDRMC Unsyiah, Mukhlis mengatakan, selain meneliti, pihaknya juga
melaksanakan training tentang kebencanaan. “Penelitian tentang tsunami
dilakukan di Lhoknga, Lampu’uk, Ujong Pancu, dan Kajhu,” katanya.
Para pakar, di antaranya Brian F Atwater dari Amerika Serikat
memerkirakan gelombang tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 bukan
bencana yang pertama. Perkiraan itu diungkapkan setelah para peneliti
menemukan sisa debu vulkanik di kawasan Lampu’uk.
“Kemungkinan, tahun 1800-an juga pernah terjadi bencana serupa tapi
belum belum bisa ditetapkan tahun terjadinya,” kata Muklis saat
mengadakan pertemuan dengan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza
Sa’aduddin Djamal.
Dalam pertemuan itu, Illiza berharap hasil penelitian pakar geologi
itu dapat menjadi literatur bagi ilmu pengetahuan di seluruh dunia, dan
masyarakat Aceh. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada negara-negara
yang telah membantu rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.