Berada di Pantai Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), serasa seperti bukan di Aceh. Hamparan pasir putih dan alun gelombang dengan angin barat yang hangat, deburan ombak, aksi peselancar, atau pengendara banana boat, merupakan daya tarik yang tak bisa dilewatkan.
Pengunjung baru mulai merasa sedang berada di Aceh ketika menyantap ikan bakar khas Lampuuk dan mie kepiting Aceh dipadu dengan es kelapa muda atau kopi khas Aceh. Bisa juga saat menatap bibir pantai yang penuh dengan perempuan yang mandi di laut dengan mengenakan jilbab dan baju panjang.
Wisatawan yang berkunjung ke Lampuuk bisa menikmati kilauan cahaya yang menerpa butiran pasir, deburan ombak, dan aksi para peselancar dan pengendara banana boat. Ada juga yang sekadar berendam, berlarian, berenang sepuas hati, memancing, atau sekadar duduk-duduk menikmati kilauan cahaya mentari yang menerpa butir pasir menjelang senja.
Makin sore, suasana makin ramai. Ribuan orang berjejal di hamparan pasir sambil menunggu senja. Puncak keindahan adalah munculnya rona merah keemasan yang menerpa riak gelombang di ufuk barat Samudera Hindia.
Hari libur adalah puncak keramian di Pantai Lampuuk. Orang-orang tua, remaja, hingga anak-anak, berbaur di bibir pantai. Dengan berkendara sejauh 12 km atau 20 menit pengunjung bisa mencapai kawasan ini tanpa terhambat kemacetan. Lampuuk adalah ikon wisata pantai yang terkenal di Aceh.
Selama konflik bersenjata di Aceh, tahun 1975 sampai Agustus 2005, kawasan ini selalu ramai. Konflik tidak menyurutkan niat masyakarat untuk menikmati keindahan alam Pantai Lampuuk. Padahal, kawasan ini berada pada titik persilangan wilayah basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pada era masa konflik, di kawasan dekat Pantai Lampuuk pun sudah berkembang menjadi kawasan elite. Ada padang golf dan restoran yang hampir setiap hari dikunjungi kalangan atas. Namun, ketika bencana tsunami, kawasan ini porak-poranda. Lebih dari separuh penduduk Lampuuk tewas diterjang tsunami.
Sungguh pun demikian, dalam waktu kurang lebih setahun setelah tsunami, fungsi kawasan ini secara perlahan pulih kembali. Tsunami seakan “membersihkan” areal pantai dan menjadikannya areal yang lebih landai dan indah.
Integrasi
Pantai Lampuuk terletak di Kabupaten Aceh Besar, dan berada dalam garis pantai Lhoknga. Kawasan pantai ini juga membuat NAD menjadi provinsi terindah di barat Indonesia. Selain Lampuuk, provinsi seluas kurang lebih 57.365,57 km persegi, dengan penduduk sekitar 4,3 juta jiwa, ini juga memiliki garis pantai, pulau-pulau, dan kawasan pegunungan yang terkenal dengan keindahan alamnya.
Pascatsunami, wisata Lampuuk diintegrasikan dengan pengembangan kawasan wisata lainnya seperti Pulau Sabang, Danau Laut Tawar, dan wisata alam pegunungan di kawasan Aceh Tengah. Hal ini membuat Lampuuk tidak hanya terkenal di Aceh tetapi juga terkenal di Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Banyak wisatawan asing dan domestik mengunjungi tempat ini setiap hari, hanya untuk menikmati keindahan alamnya.
Keunikan yang terlihat tidak hanya dari struktur pantainya, tetapi juga geografis Pantai Lampuuk. Diapit pemandangan gunung yang indah dan menjulang tinggi, menambah keunikan dan keindahan pemandangan Pantai Lampuuk. Bahkan, di seberang Pantai Lampuuk terpancar keindahan gunung karst yang terletak di Desa Naga Umbang, yang bersebelahan dengan Lampuuk.
Di situ pengunjung juga bisa menikmati hutan alami sambil berendam di air tawar yang airnya keluar dari bawah bukit karst. Gunung karst itu merupakan wilayah tangkapan air yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar pengunungan. Juga terdapat berbagai jenis flora dan fauna spesifik, yang tidak dijumpai di tempat lain, menjadi daya tarik tersendiri untuk jadi objek wisata berikutnya.
Pengunjung Lampuuk juga dimanjakan dengan berbagai jenis makanan yang tersaji dalam paket makanan khas Aceh. Mie kepiting aceh, ikan bakar, cumi bakar, tersaji dengan aneka lalapan dan sambal yang akan menggoyang lidah dan menggoda penyantapnya. Selain itu, terdapat berbagai jajanan yang sering dijumpai di sepanjang pantai, seperti jagung bakar dan pisang bakar, dengan aneka rasa, dari manis, asin, hingga pedas. Jajanan tersebut diserbu pengunjung di sore hari, sambil menunggu terbenamnya matahari.
Provinsi yang terletak paling barat Indonesia memang kaya dengan objek wisata yang memanjakan siapa saja yang berkunjung, wisata pantai dan laut yang terhampar di pesisir timur dan barat Aceh dan wisata alam di tengah-tengahnya. Bagi yang menyukai wisata sungai, sambil berarung jeram, wisatawan bisa berkunjung ke Geumpang, Kabupaten Pidie yang sungainya mengalir hingga puluhan kilometer ke Aceh Jaya atau di Sungai Alas, Aceh Tenggara.
Wisatawan yang ingin menjelajahi hutan sambil naik gajah, Kecamatan Manee, Kabupaten Pidie dan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya adalah tempatnya. Di sana telah ada pemandu yang siap membawa pengunjung menikmati hutan alami. Bagi yang hobi bertualang di hutan belantara, Aceh juga lokasi yang tepat, pengunjung bisa mendaki puncak Gunung Seulawah Agam yang terletak di Aceh Besar, mendaki puncak Burni Telong di Kabupaten Bener Meriah atau Puncak Leuser di Aceh Tenggara.