| (Foto: Jun-Mul) |
Perjalanan
kemudian dapat dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak. Berkelok
dan menanjak dengan semak belukar di kiri dan kanannya. Di balik semak
itulah Benteng Inoeng Balee berdiri kokoh. Akar-akar pohon menyatu
dengan dinding benteng. Walaupun batu-batu yang tersusun sebagai
konstruksi benteng di sisi kiri dan kanannya sudah rusak, namun bentuk
benteng masih dapat dilihat. Dari benteng yang terletak di atas bukit,
hamparan laut biru tampak memukau.
Menurut
perkiraan, Benteng Inong Balee berbentuk persegi panjang, Bahan
bangunan penyusun tembok benteng terbuat dari batuan alam berspesi
kapur. Tembok benteng di bagian barat memiliki ukuran panjang 60 meter,
tebal dua meter, dan tinggi 2,5 meter. Tembok benteng di bagian utara
berukuran panjang 40 meter, tebal dua meter, dan tinggi bagian dalam
satu meter. Sedangkan tembok di bagian selatan berukuran panjang 60
meter, tebal dua meter, dan tinggi bagian dalam satu meter.
Pada
tembok yang membujur utara-selatan di bagian barat terdapat empat
lubang pengintaian menyerupai bentuk tapal kuda. Tinggi lubang
pengintaian bagian dalam sekitar 90 sentimeter, lebar 160 sentimeter.
Sedangkan tinggi lubang bagian luar sekitar 85 sentimeter dan lebar 100
sentimeter. Posisinya yang mengarah ke Selat Malaka, pada zaman dahulu
berfungsi untuk mengawasi lalu-lalang kapal laut.
Di sekitar benteng, tepatnya di sebelah utara terdapat sebuah bekas permukiman yang disebut-sebut sebagai Kampung Janda atau Kampung Inong Balee.
Menurut riwayat lama yang diceritakan turun-temurun, Benteng Inong Balee yang disebut juga Benteng Malahayati ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu, juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistic keperluan perang.
Benteng
Inong Balee tidak bisa dipisahkan dengan kisah seorang laksamana
perempuan pertama di dunia, Laksamana Keumalahayati. Kisah kepemimpinan
Keumalahayati dimulai ketika terjadi pertempuran laut antara armada Portugis dengan armada Kerajaan semasa Pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil (1589-1604).
| Lubang pengintaian Benteng Inoeng Balee (foto: jun_mul) |
Ia mengajukan permohonan kepada Sultan Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang prajuritnya adalah
janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Armada yang baru dibentuk
tersebut diberi nama Armada Inong Balee (Armada janda). Sebelum
diangkat sebagai Panglima Perang Laut (Laksamana), Keumalahayati pernah
menjabat sebagai pemimpin pasukan ketentaraan perempuan di Kerajaan Aceh
(Van Zeggelen, 1935 : 89).
Setelah
Keumalahayati sukses mengemban tugas sebagai Kepala Pasukan Wanita
Kerajaan Aceh, ia diangkat oleh Sultan menjadi Admiral (Laksamana),
sebuah pangkat tertinggi dalam militer. (Davis dalam Yacobs,1894).
Awalnya,
Armada Inong Balee hanya berkekuatan 1.000 orang janda muda yang
suaminya gugur di medan perang laut. Jumlah tersebut, oleh Laksamana
Keumalahayati diperbesar menjadi 2.000 orang.
Tambahan
personil ini bukan lagi janda-janda, tetapi para gadis remaja yang
ingin bergabung dengan pasukan Inong Balee yang dipimpin Laksamana
Keumalahayati. (A.Hasjmy, 1980: 3).
John
Davis, seorang berkebangsaan Inggris yang menjadi nahkoda sebuah kapal
Belanda yang mengunjungi Aceh menyebutkan bahwa Kerajaan Aceh pada masa
itu memiliki perlengkapan armada laut yang terdiri dari 100 buah kapal
(galey). Di antaranya berkapasitas muatan sampai 400-500 penumpang.
Yang menjadi pemimpin pasukan tersebut adalah seorang perempuan berpangkat Laksamana. (Davis dalam Yacobs, 1894). Pada awal abad XVII, Kerajaan Aceh telah memiliki angkatan perang yang tangguh. Kekuatannya yang terpenting adalah kapal-kapal galey yang dimiliki Angkatan Lautnya.
Berdasarkan sebuah manuskrip (M.S) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari kalangan bangsawan Aceh, dari kalangan sultan-sultan Aceh terdahulu. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar
tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari
Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri
Kerajaan Aceh Darussalam. (Rusdi Sufi, 1994 : 30-33).
![]() |
| Prassati Benteng Inoeng Balee (foto: Jun_mul) |
Peristiwa
Cornelis de Houtman Sejarah mencatat, dalam pelayarannya pertama empat
buah kapal Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman pada tanggal 22
Juni 1596 berlabuh di pelabuhan Banten (Solichin Salam, 1987:2).
Setelah kembali ke negeri Belanda dalam pelayarannya yang kedua armada
dagang Belanda yang dipersenjatai seperti kapal perang diserang oleh
kapal perang Aceh pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda yang
bernama de Leeuw dan de Leeuwin berlabuh di ibu kota Kerajaan Aceh.
Kedua
kapal tersebut masing-masing dipimpin oleh dua orang bersaudara yang
bernama Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman. Yang menjadi
pemimpin penyerangan adalah Laksamana Keumalahayati. Dalam penyerangan
tersebut Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh. Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara (Van Zeggelen, 1935 :157 Davis dalam Yacobs, 1984- 180; Tiele, 1881 : 146-152).
Frederick
de Houtman mendekam dalam tahanan Kerajaan Aceh selama dua tahun.
Selama di penjara, ia menulis buku berupa kamus Melayu-Belanda yang
merupakan kamus Melayu-Belanda pertama dan tertua di Nusantara.
Peristiwa
penyerangan kapal Belanda yang dilakukan oleh Laksamana Keumala hayati
tersebut dilukiskan oleh Marie van C. Zeggelen dalam bukunya yang
berjudul “Oude Glorie”, hal. 157, yang dalam bahasa lndonesianya
kira-kira sebagai berikut : “DI kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis
de Houtman dan anak buahnya. Frederick Houtman, oleh Keumalahayati
kemudian sebagai tawanan dibawa ke darat. Davis dan Tomkins, keduanya
terluka, tinggal di kapal bersama mereka yang mati dan terluka. Dan pada
tengah hari kabel pengikat kapal diputuskan dan merekapun berlayarlah.”
Saat
ini, makam yang diyakini sebagai makam Malahayati dapat dijumpai
Sekitar tiga kilometer dari Benteng Inong Balee. Yaitu pada bagian
puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk.
Lokasi ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan
anak tangga semen mulai dari bawah bukit.
Untuk
menghargai kepahlawanan Malahayati, Pemerintah Republik Indonesia
mengeluarkan Skep/1487/XI/1977 mengabadikan namanya di kapal TNI AL
dengan nomor lambung 362. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
juga mencatatkan Benteng Inong Balee dalam Daftar Inventaris Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak dan Situs dengan nomor registrasi 2/01-06/C/56.
Menurut Ridwan Aswad, Sekretaris
Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Benteng Inong Balee dan
Malahayati masih diselimuti misteri. Karena cerita tentang Malahayati
sendiri sangat sedikit disebutkan dalam buku-buku sejarah.
Ridwan
mengatakan, memang ada dalam buku Aceh Sepanjang Abad edisi pertama
tahun 1961, halaman 124, disebutkan kisah tentang perlawanan Aceh
terhadap belanda tahun 1599, salah seorang anak buah kapal bernama John
Davis, seorang berkebangsaan Inggris, mengatakan bahwa salah seorang
laksamana itu adalah wanita, itu memang betul. Tapi namanya tidak
disebutkan.
“Tapi
sekarang yang terpenting adalah situs sejarah itu dipelihara dengan
baik. Agar misteri itu bisa dibuka, minimal kita bisa membayangkan
suasana masyarakat tempo dulu, sehingga sejarah bukan hanya impian, tetapi ada bukti pendukung,” ” ungkap laki-laki 61 tahun itu.
[Sumber ]
