| Rieke Dyah Pitaloka, sedang menandatangani buku puisi karyanya yang berjudul Sumpah Saripah, yang akan diserahkan kepada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, dalam kegiatan peluncuran buku puisi di Banda Aceh, Kamis (14/4/2011) |
BANDA ACEH— Pegiat seni Rieke Dyah Pitaloka meluncurkan buku kumpulan puisi karangannya di Provinsi Aceh, Kamis (14/4/2011) siang. Buku puisi berjudul Sumpah Saripah ini menceritakan kegelisahan akan ketidakadilan yang menimpa rakyat kelas bawah yang tak kunjung bisa diselesaikan oleh negara.
"Saya sangat senang bisa meluncurkan buku puisi ini di Aceh, sebuah daerah yang di sini ternyata ada pejabat yang terus memperjuangkan hak rakyat kecil, salah satunya bidang kesehatan, yakni program gubernur yang memberikan layanan gratis kesehatan bagi masyarakat,” kata Rieke dalam peluncuran buku puisinya.
Buku puisi ini berisikan puisi-puisi tentang gerakan pembebasan terhadap hal-hal yang seharusnya tidak terjadi dan tidak dialami oleh masyarakat.
"Intinya puisi ini bukan puisi yang sekadar berisi romantisme semata, melainkan juga berisi kritikan dan ungkapan kebebasan serta fenomena kehidupan sosial yang saat ini terjadi di kalangan masyarakat, misalnya nasib rakyat kecil yang tidak bisa menikmati fasilitas kesehatan, buruh-buruh yang tidak mendapat upah yang layak, dan lain sebagainya," ujar perempuan yang kini juga menjabat sebagai anggota DPR RI ini.
Ia berharap, puisi ini bisa memberikan inspirasi dan solusi bagi si pembaca terhadap fenomena yang ada di sekitar kita.
Dalam kesempatan yang sama, pemeran "Oneng" dalam sinetron Bajaj Bajuri ini juga menyerahkan buku antologi puisinya kepada Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, yang hadir pada acara tersebut.
Tak mau kalah dengan "Oneng", Irwandi Yusuf pun membacakan sebuah puisi berbahasa Aceh yang berjudul "Kameng Hitam". "Saya menemukan puisi ini dari sebuah sobekan majalah yang pernah terbit di Aceh, yakni majalah Sinar Darussalam. Tapi saya sudah tak ingat siapa pengarangnya. Saya hanya ingat liriknya," sebut Irwandi.
Kegiatan peluncuran buku ini juga dihadiri oleh kalangan seniman Aceh, pegiat LSM, serta kalangan buruh dan mahasiswa.