Jumat, 08 April 2011

SEJARAH MELAYU DALAM HIKAYAT RAJA PASAI (HRP)

Kompleks Makam Sultan Malikussaleh di Aceh Utara


Dalam sejarah panjang Rantau Melayu, Aceh Darussalam telah menjadi pusat budaya Melayu dunia paling tidak sejak abad ke-14 sampai dengan abad ke-19. Karena itu, Aceh Darussalam adalah 4 serangkai pusat budaya Melayu yaitu Sriwijaya,Aceh, Melaka dan Riau.
Yang patut dicatat, masuknya Islam ke wilayah ini sesuai dengan sunahnya yaitu sebagai agama perdamaian, tanpa jalan kekerasan atau peperangan. Islam sangat bersesuaian dengan budaya orang Melayu, sehingga Islam masuk dan menyatu dalam semua tingkat strata masyarakatnya. Budaya Melayu dan Islam telah menyatu padu ibarat air dangan buih, sehingga dapat dikatakan tidak diakui seseorang itu orang Melayu kalau tidak beragama Islam. Islam masuk pertama sekali di Kerajaan Aceh Darussalam. Dari sini Islam mekar dan tumbuh dengan subur hingga merambat ke seluruh wilayah rantau nusantara yang luas ini. Sampai setakat ini Aceh menyandang gelar keistimewaan yaitu Serambi Mekkah. Melayu-Aceh telah memilih dan memelihara Islam dengan semangat yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Sehingga Aceh merupakan satu-satunya daerah yang memakai hukum Allah yakni syariat Islam. Sementara negeri lain memakai hukum yang dibuat oleh manusia, yang dapat diubah sesuai kehendak penguasa dan hawa nafsu.
Di Aceh pulalah lahir karya-karya besar terutama dalam bidang kesusasteraan. Salah satunya adalah Hikayat Raja Pasai—Sampai setakat ini sangat sedikit peneliti Melayu yang mau mengangkat karya sastra lama—bandingkan dengan para peneliti Eropa yang berlomba-lomba mengkaji kekayaan kita ini padahal inilah jati diri kita. Dalam sejarah sastra Islam di nusantara Hikayat Raja Pasai—nantinya disingkat dengan (HRP) merupakan karya sastra bersifat sejarah tertua. Dalam naskah diceritakan peristiwa yang terjadi antara tahun 1250–1350 M. Zaman ini adalah masa pemerintahan Raja Mirah Silu yang kemudian masuk agama Islam dan menggantikan namanya dengan Malikul Saleh— seorang peneliti masalah Melayu W.O.Winstedt menyebutkan HRP adalah teks tertua yang ditulis sebelum tahun 1534 M. Setahu saya HRP merupakan satu-satunya peninggalan sejarah Melayu zaman Kerajaan Pasai yang ditemukan sampai saat ini. Jika kita tinjau dari segi isi maka karya sastra ini dapat kita golong-kan sebagai hikayat historical dan mythological Pada awal HRP ini langsung dijelaskan oleh pengarang bahwa raja Melayu pertama masuk Islam adalah Raja Pasai. Hal ini merupakan bukti sejarah bahwa di Kerajaan Pasailah Islam pertama masuk baru kemudian menyebar ke seluruh nusantara; alkisah peri men- yatakan ceritera raja yang pertama ma- suk agama Islam ini Pasai. Maka ada diceriterakan oleh orang yang empun- ya ceritera ini, negeri yang dibawah angin ini Pasailah yang membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah.Memang salah satu ciri sastra Melayu lama tidak lepas dari mitos namun hal ini tidak akan men- gurangi nilai-nilai sejarah yang ter- kandung di dalamnya—secara teor- itis. Mitos dalam HRP merupakan suatu jalinan cerita yang menyatu dengan nilai-nilai lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Saling mempererat dan menambah nilai estetika. Adapun mitos yang menonjol adalah Merah Silu menahan lukah dan kena gelang-gelang yang dire- busnya. Gelang-gelang itu menjadi emas dan buihnya menjadi perak…./ Merah Silu naik ke atas tanah tinggi itu maka dilihatnya semut sebesar kucing lalu di- makannya…/ Selain itu, mitos bercam- pur dengan sejarah dapat dilihat pada penceritaan masuknya agama Islam; Rasulullah beginda bersabda pada segala sahabat, pada akhir zaman ada sebuah negeri di bawah angin, Samud- era namanya. Apabila kamu dengar kha- bar negeri itu maka segera kamu pergi ke sana dan bawa isi negeri itu masuk Is- lam—tidak satupun referensi yang mendukung kebenaran teks—dalam Islam sabda Rasullulah diriwayat- kan dalam bentuk hadits.
              Adapun kesucian negeri Samudera dilukiskan dengan Di negeri itu banyak wali Allah akan jadi; seorang fakir Ma’abari perlu dibawa. Sedang- kan sejarah perjalanan Islam se- hingga sampai di Samudera Pasai serta tokoh-tokoh yang menyebarkannya dapat dirunut dengan jelas; Syarif Mekah mengirim Syaikh Ismail dengan sebuah kapal dan segala perka- kas kerajaan berlayar dan ia singgah di Ma’abari. Setelah sampai di Ma’abari, Syaikh Ismail berlabuh. Raja negeri, Sultan           Muhammad,anak-cucu Abubakar as-Sidik, merajakan anaknya, memakai pakaian fakir dan ikut dengan kapal menuju Samudera. Pada mulan- ya mereka sampai di Fansur dan meng- islamkan rakyat di sana. Kemudian mereka sampai di Lamiri dan rakyat di sanapun diislamkan. Sesudah itu mere- ka berlayar lagi dan sesampai di Haru mereka Islamkan orang di sana. Ketika mereka bertanya dimana negeri Samud- era, dijawab mereka telah lalu serta mere- ka balik kembali. Sesampai di Perlak mereka Islamkan pula orang di sana dan akhirnya mereka tiba di Samudera.

Selanjutnya HRP menceritakanpengislaman Merah Silu serta pengangkatan dirinya menjadi raja.Setelah masuk Islam namanya diganti dengan Sultan Malikul Saleh; setelah sampai di Samudera, Merah Silu diislamkan. Sesudah itu ia bermimpi Rasulullah menyuruh ngangakan mulutnya dan meludahi ke dalamnya. Ketika terjaga diciumnya tubuhnya berbau narwastu. Setelah siang fakir naik kedarat membawa perkakas kerajaan dan Merah Silu dinamai Sultan Malikul-Saleh.
Kalau kita simak peristiwa dalam HRP ini merupakan satu rentetan sejarah panjang dan kompleks sertamendetail. Sangat jarang kita temui karya sastra sejarah seperti ini di nusantara yang mencerita suatu peristiwa secara tuntas dan runtut. Pada babak awal dikisahkan asal mula Merah Silu serta nama Sam udera Pasai;
ada Merah dua bersaudara diam dekat Pasangan. Asal mereka dari Gunung Sanggung, yang tua Merah Caga namanya, yang muda Merah Silu…./ . Pada suatu hari Merah Silu pergi berburu dengan anjingnya Si Pa-
sai yang menyalak tanah tinggi. Merah Silu naik ke atas tanah tinggi itu maka dilihatnya semut sebesar kucing lalu dimakannya. Pada tempat itu dibuatnya negeri yang dinamai Samudera, artinya semut besar
Selain hal di atas, HRP juga menceritakan mengenai unsur-unsur legalisasi susunan keluarga yang memerintah, menyatakan asal-usul yang sakral keluarga tersebut serta konflik yang terjadi antar mereka.Sepanjang cerita dalam HRP selalu temui konflik mulai dari awal hingga marah hendak membunuh adiknya. Mendengar ini Merah Silu lari ke Rimba Jerun.Merah Silu mengemasi orang di sana dan mereka mengikut katanya.
Kemudian konflik antar keluarga kerajaan terus berlanjut pada generasi  berikutnya;
demikian halnya dengan
Sultan Malikul-Mansur yang merampas gundik abangnya, demikian pula halnya dengan Sultan Ahmad yang cemburu terhadap putera-puteranya dan oleh sebab itu membunuh mereka.

Pada satu sisi konflik ini mempunyai fungsi didaktik. Raja yang zalim akan mendapatkan hukuman, negerinya musnah. Selain konflik antar sesama keluarga, Kerajaan Samudera Pasai juga mendapat serangan dari Kerajaan Majapahit—riwayat Putri Gemerincang,Putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil, Putra Sultan Ahmad, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit.
Mungkin karena faktor-faktor diatas, A.H. Hill (1960)—seorang peneliti tentang kebudayaan Melayu yang berkebangsaan Eropa membagi HRP dalam tiga bagian;


(1) Dari awal sejarah Pasai hingga
dengan disebut Sultan Malikul
Mahmud dan naiknya taktah Sul-
tan Ahmad.
(2) Kerajaan Sultan Ah-
mad dan riwayat putra Tun Beraim
Bapa.
(3) Riwayat Putri Gemerin-
cang, Putri Raja Majapahit yang
jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil,
Putra Sultan Ahmat, dan Pasai
dikalahkan oleh Majapahit.


Teuku Iskandar dalam bukunya Kesusastraan Melayu Sepanjang Abad (1996) mengatakan kalauditinjau dari isi maupun susunan tifografinya HRP mempunyai persamaan persamaan yang menyolok dalam pokok pembicaraan serta susunan ayatnya dengan Sejarah Melayu. HRP versi panjang diwakili oleh Raffles MS 67. Teks naskah ini diterbitkan dalam huruf  Jawi oleh Edouard Dulaurier (Paris 1849) dan kemudian (1871). Terjemahan yang lengkap dibuat oleh Aristide Marre (1874). Teks ini kemudiannya dirumikan oleh P.J.Meat (1914) dan oleh A.H.Hill (1960).

Dalam konteks kekinian apakah masih patut kita untuk berbangga kalau kita sendiri mulai meninggal kan akar budaya dan sejarah kita sendiri?***


Penulis :
*Peminat Sastra Melayu klasik  dan bekerja di Balai Bahasa Banda  Aceh
Sumber : www.modusaceh.com