Selasa, 22 Februari 2011

ACEH Di Mata Dunia

Suatu siang, pada bulan Juni 1599, dua kapal Belanda de Leeuw dan de Leeuwin yang dinakhodai dua bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman melayari selat dan mendarat di Aceh untuk berdagang. Layaknya penjajah Barat, semula tujuannya (mungkin) murni, namun kelak rupanya bertingkah di Selat Malaka. Daratan Malaka dan selatnya, masih termasuk ke wilayah Kerajaan Aceh Darussalam tempo doeloe. Patroli pantai dan lautnya tentu saja komplit dan siaga, seperti pasukan gajah (po murah) di angkatan darat kerajaan. Dan pasukan Inong Balee yang punya benteng di Kuta Inong Balee (Widows Fort) di Krueng Raya itu, bisa melayani tingkah dan serangan itu. Tuan Cornelis, staf, dan beberapa ABK (anak buah kapal) tewas dalam serangan laut itu. Inong Balee tentu bukan bercelanakan laki-laki, kayak Houtman, tapi menang. Itulah perempuan Aceh dulu, dan kini?

Sedangkan Frederick sempat divonis dan mendekam di penjara Kerajaan Aceh Darussalam (mungkin Keudah). Dia ternyata tertarik dengan Aceh dan bahasanya. Selama dalam sel dia sempat merampungkan sebuah kamus Melayu-Belanda. Seorang nakhoda yang tidak hanya paham riak hukum kemaritiman. Barangkali ia seperti pelalang buana (adventuris) Ibnu Batutah dan Colombus. Aceh dengan banyak dimensinya sudah menarik Frederick untuk menulis. Seperti juga Anthony Reid dengan bukunya, Asal Mula Konflik Aceh (Yayasan Obor Indonesia, Juli 2005) itu. Juga penulis, wartawan, atau sejarawan lain. Ramai-ramai misalnya juga ikut dalam konferensi ICAIOS di Swiss-belHotel bersama puluhan pakar sedunia, 24-27 Februari 2002. Begitulah Aceh dilihat orang.


Seperti juga C Snouck Hurgronje tiga abad kemudian—sejak Houtman, yang terkesan dengan adat, sosial, dan antropologi masyarakat Aceh. Sebab sedikit sarjana dan panglima Belanda yang ingin lama-lama ke Aceh untuk misi ini. Walaupun ujung riset Hurgronje juga sarat nilai politis yang licik, dan munafik. Namun inilah penggalan tinta sejarah khasnya. Tentu, Snouck ‘Abdul Ghaffar’ Hurgronje, juga takjub dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang masih berkubah satu saat itu (tahun 1936 menjadi tiga kubah). Seperti orang Jakarta atau asing yang ramai-ramai ke Aceh dan ke singgah di sini, bermain atau kawin, memberi makan atau cari makan. Di tempat sujud sekarang, di sisi timur masjid, di mimbar tua dulu, Snouck telah fasih berkhutbah. Ada pengkhutbah, tapi munafik rupanya.

Setelah dua tahun, hingga 1885, Hurgronje tergesa-gesa meninggalkan Mekkah yang telah ‘ketahuan’ oleh pers Barat bahwa dia terkesan bukan (hanya) sarjana, tetapi mata-mata. Padahal selama di Arab, dia mendapat pengakuan internasional atas kemahiran bahasa Arab dan ilmu keislaman, Hurgronje, berangkat ke Aceh lewat Penang. Semula sebenarnya ia hanya incognito—semacam ‘musafir Eropa’ tanpa tujuan. Dari 16 Juli 1891 hingga 4 Februari 1892, Hurgronje bermain di Aceh. Bahkan ke dalam ‘sarang’ (umpung) tokoh dan ulama Aceh. Dia telah diizinkan oleh seorang wakil Belanda, Gubernur Jenderal van Teijn mengunjungi Aceh guna menyelidiki kaum ulama pasca Teungku Di Tiro meninggal (Paul van ‘t Veer, De Atjeh-Oorlo4g, 1979). Belanda melirik Aceh dengan harapan akan menguntungkan.

Kisah Aceh yang islami, agak fanatik, heroik, serta kelemahan orang Aceh dan wilayah ini pun tercatat dalam empat jilid bukunya. Analisis tentang mengapa ada provokasi, teror, dan kekejaman, agaknya memusingkan pihak Den Haag. Terbukti panglima tertinggi Belanda dimutasi secara silih berganti di Aceh. Mutasi Pjs kayak sebelum Irwandi-Nazar. Dari Jenderal van Swieten, Kolonel van der Heijden, dan Jenderal B van Heutsz semua nyaris menyerah menaklukkan Aceh.

Bahkan tragedi tewasnya empat jenderal Belanda, termasuk yang berbintang dua, JHR Kohler membuat Belanda menghitung ulang jumlah personilnya di Aceh. Apalagi setelah dia berteriak, ”Saya kena tembak!” di depan Masjid Raya Baiturrahman. Bak geulumpang (Khohler boom) saksi kekalahan Kohler pada April 1873. Sekarang di sini ramai juru foto dan penjual topi. Analisis politik dan sebagainya, telah melibatkan ide-ide Multatuli, Dr Abraham Kuyper, Busken Huet, Troelstra, Ratu Wihelmina, Volin, dan tentu saja Snouck Hurgronje untuk kemelut Aceh. Juga diplomasi melibatkan para diplomat Belanda. Itu dulu, tapi kini lewat seminar, mengundang asing. “Seminar ajang makan enak,” teriak demonstran.

Sejarah perang Aceh berbicara setelah diplomasi terbaca lawan. Maka dari Batavia, Gubernur Jenderal James Louden meminta izin ke Den Haag, untuk menyerang Aceh. Ratu Belanda menginstruksikan kapal perang menuju selat, ke Aceh. Pada tanggal 18 Februari 1873 atau 26 Maret 1973, perang Aceh meletus. Tak hentinya Belanda melawan Aceh selama 69 tahun, dan sangat melelahkan Hingga usai Republik ini merdeka, bahkan sejak 1942, Belanda tidak lagi mau ke Aceh, walaupun ada agresi satu dan dua yang menembus ke sebagian Sumatera bagian utara. Walaupun Batavia--masa Fatahillah bernama Sunda Kelapa--berubah jadi Jayakarta, lalu Jakarta yang diduduki Nippon. Jakarta (pernah dipindah ke Yogyakarta) itu tempat Presiden Soekarno memerintah dan melihat Aceh. Sebab sering banjir, Ibukota mungkin akan dipindahkan lagi.

Soekarno datang dan singgah ke Kutaraja saat awal-awal kemerdekaan. Salah satu tokoh Aceh yang sempat melihatnya, menuturkan, “terakhir ia menumpahkan air mata buayanya untuk memperdaya tokoh masyarakat dan ulama.” Rencananya dua pesawat yang dibeli dengan 2 kg emas itu akan digunakan untuk diplomasi pemerintah masa Soekarno. Dan ternyata proyek Seulawah 001—cikal bakal GIA—cuma satu yang ada terbeli. “Satu unit lagi entah di mana rimbanya,” tanya Abu Mansoer sesal. Janji-janji Jakarta selanjutnya untuk Aceh, telah melukai hati Aceh, dan membuahkan sikap perlawanan sejarah. Maka misalnya, ketika tahun 1949 Negara Islam Indonesia (NII) diproklamirkan dari tanah Jawa, gerakannya disambut dan meluas hingga ke Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Untuk Aceh, NII ini disambut Tgk Muhammad Daud Beureueh. Dan Hasan Muhammad Di Tiro juga salah satu anak murid setia Abu Beureueh, sebelum pemikirannya sedikit berwarna lain (baca: GAM) sebelum MoU. Sampai pemerintahan beralih ke Soeharto yang sarat konflik, dan pada Abdurrahman Wahid hingga paruh 2001. Lalu Megawati yang berkuasa sejak 23 Juli 2001 juga kembali menuai ekses gerakan ‘separatis’ ini.

Gus Dur juga mencoba melihat Aceh, jauh sebelum jadi presiden. Pernah kiai ini menangis terisak-isak di Masjid Raya Baiturrahman pada istighasah akbar yang dilakukan HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), September 1999. Dia datang bersama Amien Rais dan Megawati, yang kita tidak yakin, mereka datang sepi dari suara partai politiknya. Setelah melihat, semuanya ingin berbuat atau mungkin mengambil kesempatan dari Aceh. Kisah 8 Desember 1999 yang jutaan rakyat Aceh berkumpul di masjid ini juga, membukakan mata siapa pun pada satu solusi, tuntutan referendum (bebas atau bergabung). Tatapan Jakarta dan dunia--setelah ke Timor Lorosae-- terfokus ke sini, ke masjid yang pernah dibakar Belanda pada 1874 (direhab tujuh tahun kemudian). Lagi-lagi Masjid Raya Baiturrahman sebagai simbol, dan tanda ada sebuah kunjungan ke Aceh.

Seulawah NAD
Memang Gus Dur ke Aceh lagi pada 19 Desember 2000 pada Nuzulul Qur`an. Sebelumnya beberapa kali sempat menjenguk Aceh, seperti pada 30 Agustus 2000, dalam agenda peresmian Sabang sebagai freeport (pelabuhan Sabang). Ekonomi rakyat juga harus diprioritaskan, jika Aceh ingin didamaikan. Pada 8 September 2001, Presiden Megawati juga melihat dan tiba ke Aceh. Kamis 26 September juga ke Blang Bintang untuk meresmikan mengudaranya Seulawah NAD Airlines (terbang perdana Pioner GIA itu, 27 September 2002). Lalu karena korupsi atau tak ahli, burung besi masuk ‘kandang’, kayak heli Abdullah Puteh yang dibeli dengan uang kita.

Padahal pada 29 Juli 1999—sebelum menjadi presiden—ibu Mega mengiba, “khusus kepada saudara-saudaraku di Aceh, bersabarlah. Bila Cut Nyak memimpin negeri ini, tak akan saya biarkan setetes pun darah rakyat mengalir. Tanah rencong yang begitu besar jasanya dalam mewujudkan Indonesia merdeka.” Dan orang Aceh telah melihat dengan mata dan telinga atas pemerintahannya. Dia datang ke sini mengaku tamu, dan meminta maaf. Orang Aceh memang cenderung pemaaf, kadang bisa sampai melupakannya. Seperti kata Konfusius dari Cina, yang mengingatkan, “dirampok atau hati dilukai tidak berarti apa-apa, kecuali jika anda terus menerus mengingatnya.” Tapi kunjungan menteri dan siapa pun nanti, kita mohon lihatlah Aceh tidak hanya dengan dua mata, tapi lewat nurani dan empati. SBY membuktikannya, usai tsunami. Helsinki itu saksinya.

Menyangkut marwah, memang sulit untuk melupakannya, justru inilah problem Aceh. Seperti papar Eep Saifullah Fatah, “Persoalan Aceh hanya dua, marwah dan keadilan.” Pemerintah kini tentu harus mengembalikan kedua-duanya. Jika tidak, ulah Aceh akan melelahkan Pusat, seperti Belanda dulu. Caranya, misal saja melihat orang Aceh sebaiknya tidak dengan lirikan ketidakadilan terus-menerus, tapi dengan sanjungan dan penghargaan. Sebab, “Hinaan ketidakadilan lebih pedih dari kematian.” Sebuah hinaan akan membuahkan dendam. Inilah salah satu punca teroris dunia. “Sumber psikologis paling penting dari terorisme selalu adalah pada perasaan dendam yang mencari jalan keluarnya,” tutur Leon Trotsky dari Rusia. Anthony Reid bilang dalam satu konferensi, benih konflik Aceh akan tiba—jika pencetusnya juga ada. Soal siapa yang berjasa dalam meredam kemelut, SBY dan JK jual sama-sama “jual kecap” di Aceh, tergantung kiban cara menatap daerah ini.